“Ck
! kenapa kau lama sekali ?!” decakku pada Sung Young yang masuk ke dalam
mobilku. “mianhaeyo.. Sung Rin~a. aku juga tidak tau acaranya sampai petang
begini. Hehehe” ia hanya nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang kurasa tidak
gatal.
“oh
ya.. tadi aku dengar ada keributan di depan ballroom. Dan seingatku, kau
menungguku di depan ballroom juga. Apa itu ada hubungannya denganmu?” tanyanya.
Sekilas aku menolehnya dengan tampang masam. “nahh.. benarkan itu kau?!” ia
mulai curiga dan menunjuk-nunjuk ke arahku.
“sudahlah.
Itu tidak penting untuk dibahas” elakku dan mulai menghidupkan mesin mobil.
“sebenarnya
ada apa? ayoolahh.. ceritakan padaku” ia menarik-narik ujung kemejaku seperti
anak kecil. “aku sedang fokus menyetir, Sung Young~a. Jangan ganggu aku” aku
tetap menolak bercerita padanya. Ia menyerah dan hanya menggerutu kesal.
Kamipun
sampai di apartement kami. Aku dan Sung Young memang tinggal bersama. Tapi
tidak hanya kami berdua saja. Kami juga mempunyai yeoja yang kami anggap
sebagai kakak kandung kami, Kim Soon Ra onnie. Tidak seperti kami yang kuliah
di Korea Advanced Institute of Science
& Technology (KIST) #eeaaaa. Ia hanya bekerja sebagai manager di sebuah
café tapi bukan café biasa. Itu adalah café mewah yang terletak di pusat Kota
Seoul. Aku juga heran kenapa Soon Ra onnie bisa sukses seperti itu. Tanpa
kuliah sekalipun. Mungkin memang nasibnya yang sangat beruntung. Kami bertiga
membayar uang sewa apartement ini dengan jerit payah kami sendiri. Aku bekerja
sebagai editor utama di perusahaan penerbit. Sedangkan Sung Young menjadi guru
honorer di sebuah sekolah menengah atas. Kami memang terbilang sangat muda
untuk menduduki posisi-posisi itu. Keberuntungan memang menyertai kami
bertiga.
“apakah
Soon Ra onnie sudah pulang? Kenapa gelap sekali disini?” Sung Young
mencari-cari tombol lampu untuk menerangi apartement kami. “molla” jawabku
singkat. Aku menajamkan indra penciumanku, bau alkohol.
“ahh..
Soon Ra onnie. Kau minum lagi !” aku menghampiri Soon Ra onnie yang tengah
duduk di meja makan didampingi 2 botol soju. “ohh.. kalian sudah datang. Kenapa
lama sekali? Aku kesepian disini” ucapnya yang setengah sadar.
“apa
karena Taemin lagi?” selidik Sung Young. Seketika Soon Ra onnie menoleh ke arah
kami dengan tatapan sendu.
“namja
itu. Kenapa dia tidak pernah peka terhadap perasaanku? Aku selalu berada
disisinya. Menampung semua curahan hatinya. Tapi kenapa ia tidak mengerti
tentang diriku? Aku sangat mencintainya Sung Young~a, Sung Rin~a. Hatiku sangat
sakit. Hubungan kami tidak jelas seperti apa bentuknya. Aku tidak tau bagaimana
perasaannya padaku. Aku sangat menderita” katanya menatap kami bergantian.
Tangisnya pecah.
“lupakan
saja dia, onnie. Sudah jelas ia hanya menganggapmu sebagai noonanya saja.
Perhatiannya selama ini hanya sebatas rasa sayang adik kepada kakaknya” aku
mencoba menenangkannya.
“tapi aku
sangat mencintainya. Cintaku bukan cinta untuk seorang adik, melainkan cinta seorang
yeoja pada namja” isakannya mulai terdengar membahana di apartement ini. Sung
Young mendekap Soon Ra onnie dan menepuk pelan bahunya.
“ayolah
onnie, masih banyak namja yang menyukaimu di dunia ini. Bahkan mungkin lebih
baik dari Taemin” ujar Sung Young. “Hikss.. aku menderitaa” ucap Soon Ra onnie
sebelum akhirnya ia pingsan.
“hahh..
bawa saja ia ke kamar. Sepertinya dia sudah mabuk berat” suruhku pada Sung
Young sambil menggeleng pelan melihat dua botol soju yang sudah kosong.
“Yaa !
kenapa harus aku?!” tolak Sung Young yang masih menahan tubuh Soon Ra onnie
agar tidak jatuh.
“memangnya
kau mau Soon Ra onnie kita biarkan disini?” balasku. “kalau begitu kita bopong
berdua” ajaknya. Aku menggeleng cepat, “shireo” aku melenggang masuk ke
kamarku. “Yaa ! tapi dia berat !” teriakannya menggema di setiap sudut
apartement. “anggap saja itu sebagai hukuman membiarkanku menunggu lama acara
bodohmu itu !”
Aku
menutup pintu kamarku. Membiarkan Sung Young berusaha membopong Soon Ra onnie..
haha ! rasakan pembalasanku !
Ngomong-ngomong
soal acara itu, aku kembali memikirkan kejadian-kejadian tadi. Aku merebahkan
tubuhku diatas ranjang.
“oppa.
Hari ini aku bertemu denganmu langsung, apa kau tidak mengingatku?” gumamku
sembari melepaskan sesuatu dari leherku. Kalung ini, pemberian seseorang 10tahun lalu. Kalung yang berliontin emas
segi empat dan terukir kata LOVE di permukaannya. Kugenggam kuat liontin itu.
Entah
saat itu bagaimana hubungan kami yang sebenarnya. Kami begitu dekat. Bukan
sebagai kekasih. Ia tidak pernah menyatakan perasaanya padaku. Tapi ia sangat
perhatian, selalu ada untukku, menghiburku setiap saat. Membuatku menyimpan
perasaan padanya.
***
-Shin
Sung Young POV-
Aishh..
yeoja itu benar – benar. Tega sekali menyuruhku membopong Soon Ra onnie
sendirian ke kamarnya.
“aku
mencintaimu, Taemin. Aku mencintaimu” gumam Soon Ra onnie saat kubaringkan ia
di ranjangnya. Aku hanya menggeleng prihatin melihatnya.
Cklekk
Kututup
pelan pintu kamarnya agar ia tidak terbangun. “lalu sekarang aku harus apa?”
dengusku sendiri. Akhirnya kuputuskan berjalan-jalan sebentar ke luar
apartement.
Aku
berjalan tanpa tujuan. Hanya sekedar mencari udara segar di malam hari.
Langkahku terhenti ketika melihat seorang namja yang sedang menoleh kesana
kemari. Siluetnya seperti tidak asing bagiku. Aku mencoba mendekatinya dan
menyentuh pundaknya.
“annyeong?”
sapaku. Ia menoleh, dan… taadaaa… kalian pasti kaget siapakah namja dihadapanku
sekarang ini. “neo?” aku terlonjak tak percaya melihat seseorang yang tengah
berdiri di dekatku. Apakah aku sedang bermimpi?? Seseorang ! cubit aku !
“kau
mengenalku?” tanyanya lalu menaikan sedikit syal tebal yang melilit di lehernya
dan membenarkan topi yang ia pakai. “tentu saja aku mengenalmu. Kau Kim Jong
Woon alias Yesung Super Junior !” tebakku. Seketika ia membulatkan matanya.
“ssttt…jangan
keras – keras” katanya yang meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. Aku
mengangguk mengerti. “kau ELF?” ia memerhatikan kalung yang kupakai. Memang
kalung yang kukenakan berliontinkan kata ‘ELF’. Aku mengangguk lagi.
“kalau
begitu, apa kau tau ini daerah mana?” tanyanya. Aku hanya mengernyit bingung.
“bukankah kita sedang berada di Sungai Han, oppa. Memangnya kenapa?” jawabku
sembari menunjuk sebuah sungai yang terletak beberapa meter dari tempat kami
berdiri . Ia mulai bersikap serius, “begini, rencananya tadi aku hanya ingin
berjalan-jalan di sekitar dormku. Tapi, tanpa sadar aku malah sampai ketempat
ini. Aku tau kalau ini adalah daerah Sungai Han. Tapi aku tidak tau jalan untuk
pulang” jelasnya. Sedetik kemudian aku tertawa keras.
“huahahahaha…
oppa ! kau lucu sekali ! huahahhaha” tawaku terbahak-bahak. Demi apapun, ini
untuk kedua kalinya, YESUNG LUPA JALAN PULANG KE DORM.
“sstttt…
sudah kubilang jangan keras-keras. Bisa-bisa ada yang mengenaliku nanti” ia
melihat ke sekitar. Memastikan tidak akan ada yang curiga dengan keberadaannya.
“haha..
oke oke. Baiklah. Jadi, sudah berapa lama oppa tersesat disini?” ucapku menahan
tawa. Bagaimana bisa aku tidak tertawa melihat kejadian langka ini (?)
“kalau
tidak salah, baru 2 jam” ujarnya dengan tampang polos. “mwo? Baru 2 jam kau
bilang? Apa oppa tidak kedinginan?” tanyaku.
“maka
dari itu, kau mau membantuku tidak?” ia merapatkan mantel tebal yang
dipakainya. “mengantarmu pulang?” ia
mengangguk cepat.
Akhirnya
kuputuskan untuk mengantarkannya kembali ke dormnya. Terdengar lucu memang,
tapi mau bagaimana lagi? Masa iya aku membiarkan biasku tersesat di negaranya
sendiri ^^
Sekitar
15 menit kami berjalan kaki, akhirnya kami sampai di dorm Super Junior.
“wahh..
bagaimana aku bisa lupa jalan pulang ya?” sungutnya. Aku hanya memutarkan kedua
bola mataku. “Kamsahamnida Agassi” ia sedikit membungkuk dan akupun
mengikutinya.
“ne,
cheonmaneyo, oppa” balasku. Ia hendak
memasuki dormnya, tapi baru selangkah ia berbalik lagi. “oh iya.. boleh aku
minta nomor ponselmu?” tanyanya. Mataku membulat sempurna. “u-untuk apa?” aku
salah tingkah. Bayangkan saja biasmu itu meminta langsung nomor ponselmu
sendiri.
“aniyo.
Tidak enak rasanya jika aku hanya mengucapkan terimakasih padamu. Kalau tidak
ada kau, bisa-bisa aku benar-benar tersesat dan mati kedinginan disana”
ujarnya. Aku hanya bisa diam mematung.
“lalu?”
ucapku meminta penjelasan lebih lengkap darinya. “Yaa.. barangkali aku bisa
memberimu sesuatu sebagai tanda terimakasih yang lebih pantas. Ottokhae? Kau
mau tidak?” tanyanya lagi. Akupun memberikan nomor ponselku padanya. “nama apa
yang harus kuberikan pada nomormu?” ia tersenyum padaku. Aku hanya terkekeh
geli, “Shin Sung Young, namaku Sung Young. Kalau begitu, aku pulang dulu ya,
oppa. Ini sudah malam. Annyeong” aku beranjak dari tempat itu.
“Gomawo,
Shin Sung Young~ssi” teriaknya sambil melambaikan tangannya padaku. Aku hanya
tersenyum bahagia melihatnya. Haahh.. sepertinya tidurku akan nyenyak malam ini
^^
***
-Shin
Sung Rin POV-
“Hoaahhmm..
jam berapa ini?” aku menguap. Mataku masih mengerjap-erjap. Tanganku meraih jam
weker yang terletak di meja sebelah ranjangku. “baru jam 5 pagi” gumamku. Aku
berjalan malas ke kamar mandi.
Jarang sekali aku bangun pagi-pagi
begini. Entahlah karena tidurku yang tidak nyenyak atau karena hal lain.
Daripada aku kembali tidur, lebih baik aku membuatkan dua makhluk (?) itu
sarapan.
Setelah satu jam aku berkutat di dapur,
akhirnya aku membawa hasilnya ke meja makan. Terdengar langkah berat dari
sebuah kamar.
“emmhh.. tumben sekali kau bangun pagi,
Sung Rin~a” ujar Sung Young yang setengah kesadarannya masih di alam baka (?).
“wahh.. kau buat sarapan juga ya?” lanjutnya melihat-lihat semua makanan diatas
meja.
“Yaa ! apa kau tidak ada kuliah hari
ini?” tanyaku. Ia hanya menguap lebar sambil mengusap-usap wajahnya. “ada sih”
jawabnya singkat.
“kalau begitu cepat mandi sanah ! ini
sudah hampir pukul 7 pagi” suruhku memukul pelan lengannya. “ne ne. arasseo” ia
berjalan gontai menuju kamar mandi. Akupun kembali ke kamar dan menyiapkan
keperluan kuliahku hari ini.
Sung Young yang baru saja keluar dari
kamar mandi langsung memposisikan dirinya duduk untuk menikmati sarapan.
Disusul olehku yang membawa tas gandeng serta jaket abu-abu favoritku.
“Soon Ra onnie belum bangun?” Tanya
Sung Young. Aku hanya mengangkat bahuku.
“aku disini” suara Soon Ra onnie
terdengar setelah pintu kamarnya terbuka. “hadduhhh.. kepalaku pusing sekali”
ucapnya sembari memegangi kepalanya. “siapa suruh minum 2 botol soju. Sudah tau
kalau kau sendiri tidak kuat minum” sungutku lalu memasukkan sesendok nasi
goreng ke mulutku. Ia hanya menggerutu tidak jelas lalu berjalan ke kamar
mandi.
“Sung Rin~a. kau tau tidak-“ ujar Sung
Young. “aku tidak tau karena kau belum memberi tau” balasku memotong
kata-katanya. “ihh.. aku belum selesai bicara !”
“oke oke. Ada apa Shin Sung Young~ssi?”
tanyaku. Ia tersenyum sumringah lalu melanjutkan kalimatnya, “kemarin malam aku
berjalan-jalan di sekitar Sungai Han. Dan kau tau aku bertemu siapa? Kim Jong
Woon alias Yesung ! member Super Junior ! dan satu lagi, ia ternyata tersesat !
tidak tau jalan pulang ! haha.. betapa lucunya sikapnya kemarin. Lalu ia
memintaku untuk mengantarnya pulang ke dormnya. Sampai di dormnya, ia
menanyakan nomor ponselku. Ya.. kuberi saja. Dan ia juga menanyakan namaku.
Wahh.. aku seperti ingin melayang !” kata-katanya membuatku mengangguk-angguk
pura-pura mengerti. Ingin sekali kusumpal mulutnya itu dengan kaos kakiku.
“yasudah.. melayang saja sana. Sekalian
jangan kembali lagi ya” ucapku santai sambil meneguk segelas susu. “aku serius
Sung Rin~a. yesung ! yesung !” serunya mengguncangkan lenganku.
“yesung si kepala besar itu?” ledekku.
“apa kau bilang?! Kepalanya tidak besar tau !” belanya. Aku menahan tawa, “lalu
apa? maksudmu kepalanya tidak besar, melainkan hanya melebihi rata-rata?
Begitu? huahahaha” tawaku lepas. Ia terlihat geram dan bersiap melempariku
dengan sendok yang ada di tangannya.
“ya ! ya ! ya ! pagi-pagi begini kalian
sudah ribut ! bukankah harusnya kalian berangkat kuliah ?!” Soon Ra onnie
datang melerai kami. “ini lagi satu !” ucapku pada Soon Ra onnie, ia mendelik
“apa ?!!” teriaknya lalu melepaskan sandal yang dikenakannya.
“huaaa… kabbuurrr”
*To Be Continue*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar