Author : Shin Sung Rin
Cast : Lee Donghae, Lee Hye Rim, Cho Kyuhyun
Category : One Shoot
Genre : Sad, Tragedy
***
No bachot :D
Happy reading all ^^
-Author POV-
“bisakah kau percepat langkahmu? Ini
sudah lewat 5 menit jam pertama kuliahku” seorang namja menghentakan kakinya kesal
pada seorang gadis yang tengah berlari kearahnya.
“Ne. Aku sudah berusaha cepat”
gadis itu mengelak dan memandang innocent pada namja dihadapannya.
Namja itu tak menggubris
pandangan gadis dihadapannya dan langsung menaiki motor sportnya yang digas
kencang.
Selang beberapa menit kemudian
motor itu berhenti didepan sebuah gedung besar bertingkat.
‘Paran Highschool’ begitulah nama
itu terpampang megah di depan gedung itu.
“kau bisa pulang sendiri ‘kan?
Aku tidak bisa menjemputmu hari ini” ucap namja itu sebelum gadis yang baru
saja turun dari motornya beranjak.
“aku akan naik bus saja” ucap
gadis itu.
“Andwae. Aku akan menyuruh Jang
Ahjussi menjemputmu” namja itu bersikeras.
“lebih baik kau pergi sekarang !
kau bilang tadi bahwa kau sudah terlambat bukan? Cepat pergi sanah!” teriak
sang gadis dan langsung berlari memasuki sekolahnya.
***
-Lee Hye Rim POV-
Apa dia harus selalu
overprotektiv seperti itu padaku?! Memangnya dia kira aku ini anak kecil apa?!
Aishh.. aku sudah muak dengannya
! kenapa aku ditakdirkan memiliki oppa seperti dia sih?! Hidup ini memang tidak
adil !!
“Annyeong, Hye Rim~ssi. Kenapa
mukamu cemberut seperti itu?” Ji Eun temanku datang menghampiriku.
“mungkin tanpa aku jelaskan kau
sudah tau penyebabnya” jawabku ketus.
“ckckck.. bisakah kalian itu
tidak bertengkar sehari saja? Huhh?” Ji Eun berdecak dan melihatku heran.
“jika diperbolehkan. Aku ingin
bertukar kehidupan denganmu” jawabku lagi dengan nada serius.
“ehh?? Memangnya kenapa?” Tanya
Ji Eun penasaran.
“kau itu beruntung memiliki
seorang oppa yang lucu dan manis seperti Ryeowook sunbae. Aku? Aishh.. betapa
aku meratapi kehidupanku yang malang ini” ujarku dengan tangan yang menengadahkan
ke udara.
“malang kau bilang? Yak ! Lee
Donghae. Seorang mantan sunbae di sekolah ini yang sangat jenius sampai menjadi
murid teladan, kapten tim basket, idola yang banyak dikejar-kejar para wanita.
Itu kau bilang nasibmu malang?” jelas Ji Eun panjang kali lebar (?)
“kalau kau ada diposisiku. Kau
akan tau bagaimana rasanya” ucapku sambil membaca sebuah buku diatas mejaku.
“ahh.. sudahlah. Aku bosan
berdebat denganmu” Ji Eun yang tadinya duduk disebelahku menghilang secepat
kilat dalam sekejap.
Saat istirahat …
“Hye Rim. Aku mau kekantin. Kau
mau ikut?” Ji Eun yang telah kembali dari alambaka (?) muncul tiba-tiba
dihadapanku.
“tidak. Aku tidak lapar. Kau
pergi saja” ucapku dingin dan kembali memfokuskan pada buku pelajaran.
“yasudah” ucapnya singkat dan kembali
menghilang. Dia itu manusia bukan sih?!
‘Hmm… bosan juga berada dikelas
sendirian’ sungutku mengedarkan pandangan keseluruh kelas.
Sepertinya nyaman kalau aku
membaca buku ini di halaman belakang sekolah. Akupun beranjak dari bangkuku dan
berjalan menuju sebuah halaman luas di belakang gedung sekolah.
Aku menduduki sebuah kursi
panjang dan menyenderkan tubuhku disana. Hening sekali disini..
Kubuka bukuku dan mulai
membacanya lagi. Sampai kudengar suara petikan senar gitar tak jauh dari
tempatku berada.
Penasaran. Kucoba melihat
sekeliling taman ini dan menangkap seseorang yang tengah duduk dibawah pohon
yang rindang. Dipangkunya sebuah gitar berwarna coklat pohon dan memetik
senarnya satu persatu sembari memejamkan mata.
Tidak jelas. Siapa namja itu?.
Kakiku melangkah mendekatinya perlahan agar ia tidak terkejut.
Teetttt… teeetttt…
Langkah kakiku terhenti setelah
mendengar bel tanda jam istirahat sudah berakhir. Namja itu bangun dan beranjak
dari tempatnya. Sekilas kulihat siluet wajahnya. Hanya sekilas. Aku tidak yakin
akan mengingatnya.
Jam pelajaran sekolah berakhir…
“aishh… apa benar ia menyuruh
Jang Ahjussi menjemputku hari ini? Kenapa belum datang juga?!” aku menggerutu
kesal didepan gerbang sekolah. Kalau sampai satu jam aku menunggu disini, aku
akan memakan oppaku sendiri hidup-hidup !
“Hye Rim? Tumben sekali jam
segini kamu belum dijemput. Mana oppamu?” Ji Eun muncul lagi. Seperti biasa,
secara tiba-tiba.
“makanya aku bilang dia
menyebalkan” gerutuku kembali sambil sesekali menengok kearah jalanan.
“kau mau pulang bersamaku?” tawar
Ji Eun.
“tidak usah. Terimakasih. Jang
Ahjussi akan menjemputku” aku menolak tawaran Ji Eun.
“Yasudah kalau begitu. aku duluan
ya” ucapnya menjauh dariku.
Hampir setengah jam aku menunggu
Jang Ahjussi. Tapi kenapa belum muncul juga?!
Kurogoh tasku mengambil sebuah
handphone dan menekan beberapa nomor disana.
“Ne. ada apa?” suara namja
terdengar dari seberang sana.
“mana Jang Ahjussi?! Kenapa dia
belum datang menjemputku?” akupun berbicara keras mengisyaratkan kalau aku
sudah bosan menunggu jemputan.
“tunggu saja. Tadi ia menelfonku
dan katanya ia sedang dirumah sakit bersama istrinya” jelasnya lalu menutup
telfon.
‘berapa lama lagi, Tuhan?!’
pekikku sembari mondar mandir gelisah.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti
dihadapanku dan kaca terbuka. Terlihatlah seorang namja menengok kearahku dan
tersenyum.
“Annyeong. Kau belum pulang?”
siluet wajahnya tersirat dalam otakku. Namja ini, bukannya yang ditaman
belakang tadi ?
“ahh.. ne. aku menunggu jemputan”
jawabku menunduk. Oh God, wajahnya begitu silau bagiku.
“benarkah? Kau sendirian disini.
Apa tidak takut?” dia keluar dari mobilnya dan mendekat kearahku. Oke,
jantungku tak bekerja dengan benar saat ini -.-“
“ani. Se-sebentar lagi ada yang
menjemputku” dia hanya mengangguk kecil dan menyandar pada mobil audi silvernya
itu. Sungguh, dia bagai malaikat tanpa sayap yang turun dari langit.
Hampir setengah jam untuk yang
kedua kalinya aku menunggu Jang ahjussi menjemputku. Setengah jam pula namja
ini berdiri dekat mobilnya. Entah ia menungguku agar aku dijemput atau ada
keperluan lain. Yang jelas detak jantungku serasa dipompa dengat sangat amat
cepat. Aku gugup.
“kau yakin akan dijemput? Sudah
setengah jam aku menunggu jemputanmu” what?!!! Dia menunggu jemputanku?? Apa
telingaku tidak salah dengar?! Sepertinya aku harus ke dokter THT
“entahlah” Aku hanya menjawab
sekedarnya. Seketika matanya membulat namun sedetik kemudian ia mulai bersikap
biasa.
“kau mau pulang denganku?”
tanyanya singkat dan kini giliran mataku yang membulat sempurna. Dia tidak
bergurau ‘kan?
“mwo?! Pu-pulang de-denganmu?” ia
mengangguk antusias dan langsung menggenggam tanganku menuju mobilnya. Kalian
tau? jantungku serasa ingin keluar dari tempatnya. IA MENGGENGGAM TANGANKU !!!
“oiya, rumahmu dimana?” aku yang
terpaku atas perlakuannya tadipun hanya bisa melongo. Dia benar-benar akan
mengantarku pulang !
***
“Gomawo, eng..” kataku terpotong
sembari menatapnya ragu. Semenjak pulang sekolah tadi, aku belum menanyakan
namanya -.-
“Cho Kyuhyun. Panggil saja aku
Kyuhyun. Dan.. kau?” ia balik bertanya. Tatapannya itu, astaga aku ingin
melayang. Siapa mau ikut ? (?)
“Aku Lee Hye Rim. Kau bisa
memanggilku Hye Rim” kini kuberanikan diri menatapnya. Sedetik kemudian aku
kembali menunduk. Aku benar-benar salah tingkah jika bersamanya.
“Kalau begitu, aku pulang dulu.
Sampai jumpa Hye Rim~a” ia kembali memasuki mobilnya dan menancapkan gasnya.
Aku berjalan memasuki rumahku
yang terkesan tidak terlalu mewah. Yahh.. Appa dan Eommaku sedang ada urusan di
luar negeri dan dirumah aku hanya tinggal bersama Oppaku, siapa lagi kalau
bukan Lee Donghae si wajah ikan itu (#author dibakar ELFish).
“Hahh… sepertinya aku mencintai
namja itu” gumamku meraih handle pintu. Hingga sebuah suara terdengar didekatku
berhasil membuat bulu kudukku berdiri.
“siapa namja itu?!” Donghae oppa
menatapku tajam. Ia berjalan mendekatiku. Seketika aku pun bergerak mundur. Oh
tidak, aku telah memancing ikan hiu ganas yang bersiap menyantapku.
“a-apa maksudmu?”jawabku berusaha
setenang mungkin agar ia tidak curiga. Jika aku berkata jujur, aku yakin besok
aku tidak akan bisa sekolah lagi.
“namja itu. Yang mengantarmu
pulang tadi dan… yang membuatmu jatuh cinta” kata-kata terakhirnya tadi, kenapa
nadanya seperti itu? Seperti orang yang sedang patah hati saja.
“bu-bukan siapa-siapa. Dia hanya
temanku.. hhehe. Begitulah” ujarku gugup.
“teman yang kau cintai ?” SKAK
MATT !!! aku kehabisan kata-kata. Seseorang, tolong aku T_T
“ka-kau ti-tidak perlu ta-tau”
ucapku gelagapan seperti habis maling ayam tetangga sebelah. Dengan sigap aku
masuk kekamarku dan menguncinya dari dalam. Selamaatt…
“Yakk !! Hye Rim ! kau belum
menjawab pertanyaanku ! Siapa namja itu ! Hye Rim~a” suara namja menyebalkan
itu menggelegar dibalik pintu. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki
yang menjauh dari kamarku. Dia sudah pergi..
Kurebahkan tubuhku di kasur empuk
kamarku. Menunggu Jang Ahjussi membuat kakiku mati rasa.
Seketika wajah tampan nan rupawan
itu terlintas di pikiranku. Cho Kyuhyun. Apa dia sudah punya yeojachingu?
Aku menatap langit-langit
kamarku. Seakan wajah namja itu terpampang jelas lengkap dengan senyum khasnya.
Membuatku tak berkedip sedetikpun.
***
Kulangkahkan
kakiku malas menuju kelasku. Hari ini aku berangkat pagi-pagi sekali. Kenapa? Tentu
saja untuk menghindari namja ikan itu. Jika hari ini aku tetap berangkat
sekolah dengannya, pasti ribuan pertanyaan akan dihujamkannya padaku. Tapi itu
tidak akan terjadi, karena aku sudah ada di sekolah ^^
“sepagi
ini mana ada yang sudah datang” dengusku kesal sambil meletakkan tasku asal.
“Annyeong”
suara yang tak asing lagi membuat aliran darahku berdesir. Cho Kyuhyun !
“ahh..
oppa. Mengagetkanku saja” kini aku sudah tak gugup lagi menatapnya. Malah
sekarang aku ingin melihat wajahnya terus.
“oppa?
Kau memanggilku oppa? Wahh.. tidak kusangka kau bisa memanggilku oppa. Hhaha”
ia terkekeh geli mendengar ucapanku barusan. Memangnya kenapa? Tidak boleh ?!
“kalau
begitu maaf. Aku tidak akan memanggilmu seperti itu” aku kembali menunduk malu.
Ahh.. dasar. Kenapa aku bisa sok akrab seperti itu yah ?!
“Ehh..
bukan begitu maksudku. Aku kira kau tidak akan sudi memanggilku dengan
embel-embel ‘oppa’”
Baru saja
aku ingin bertanya lagi, ia sudah terlebih dahulu memotongnya.
“sudahlah..
tidak usah membahas itu. Ngomong-ngomong, kau kenapa datang sepagi ini? Aku
tidak pernah melihat yeoja kelas ini yang datang pagi-pagi” ucapannya sambil
melihat seisi kelasku.
“emm… aku
punya alasan yang tidak bisa kuceritakan. Mianhae” mendengar ucapanku, ia hanya
tersenyum simpul. Tidak mungkin ‘kan aku cerita tentang oppaku kemarin? Apalagi
ini ada sangkut pautnya dengan namja ini.
“ohh..
gwaenchanayo” ia mengangguk kecil dan entah karena apa mata kami bertemu. Ia
seperti menatapku lekat-lekat. Aku membalas tatapannya dengan gugup.
1 detik
..
2 detik
..
3 detik
..
Keheningan
pagi terasa semakin menghayat kelas ini. Tatapannya semakin lama semakin
menusuk, hingga akhirnya aku dan dia terkekeh karena tingkah kami.
“wajahmu
aneh, Hye Rim~a” ia tertawa sambil menunjuk-nunjuk wajahku.
“Yakk !!
apa maksudmu ?!!” aku beranjak dari mejaku dan berlari mengejarnya yang sudah
kabur itu.
Begitu
seterusnya… semakin lama aku semakin dekat dengan namja itu. Belakangan ini ia
selalu mengajakku makan siang di kantin dan mengantarku pulang.
Donghae
oppa? Dia terlalu sibuk dengan urusan kuliahnya. Walaupun Jang Ahjussi setiap
hari menjemputku, tapi aku menyuruhnya untuk kembali kerumah dan bilang kalau
ia sudah mengantarku pulang.
Tapi ada
satu hal yang membuatku curiga. Belakangan ini Donghae oppa terlihat sedikit
pucat. Walaupun kami jarang bertemu belakangan ini tapi raut muka itu terlihat
jelas. Tak jarang juga aku melihatnya memegangi kepalanya. Namun
pikiran-pikiran tak jelas itu hanya sesekali berkelebat di otakku.
***
Hari ini
aku pulang lebih awal karena guru-guruku di sekolah akan mengadakan rapat untuk
Ujian Nasional bulan depan. Huhh.. sepertinya aku harus meminta bantuan Donghae
oppa untuk memberikan les private padaku -.-“
Setibanya
aku dirumah kulihat Donghae oppa yang sedang duduk bersantai sambil menonton
televisi. Baru saja aku ingin menghampirinya tiba-tiba ia merintih kesakitan.
Dipeganginya kepalanya itu dan ia pun berlari menuju kamarnya. Entah apa yang
akan dilakukannya aku tidak tau. Aku mencoba menyusul kekamarnya dan mengintip
di celah pintu yang sedikit terbuka.
Ia
mencari-cari sesuatu didalam laci meja. Hingga kulihat ia mendapatkan sebuah
botol kecil yang berisikan tablet-tablet putih. Apa itu obat? Sebenarnya oppaku
ini sedang sakit apa?
Ditenggaknya
butiran putih itu sembari meminum air mineral. Tak lama kemudian ia merasa
tenang dan menyabet sebuah jaket kulit berwarna hitam di lemarinya. Mengetahui
ia akan keluar kamar akupun bersembunyi dibalik tembok dekat kamar itu.
Penasaran?
Tentu saja.
Ia
mengambil sebuah kunci motor di dekat meja ruang tamu dan bergegas pergi. Aku
menghentikan taksi yang melewati depan rumah membuntuti dia sampai di sebuah
gedung besar bernuansa putih. Yapp.. itu Rumah Sakit.
Donghae
oppa berjalan memasuki sebuah ruangan dalam rumah sakit itu. Ia duduk di sebuah
kursi pasien dan tak lama kemudian nampaklah seorang ahjussi berjas putih duduk
dihadapan oppaku.
Samar-samar
mulai kudengar percakapan oppa dari balik pintu yang tidak tertutup rapat itu.
“obat
yang kau berikan padaku waktu itu mulai habis, dok. Apakah kau tidak bisa
memberiku obat penghilang rasa sakit lagi?”
“kau
tidak bisa meminum obat-obatan itu terus menerus, Donghae~ssi. Obat itu hanya
penghilang rasa sakit untuk sementara. Kau harus di kemo sesegera mungkin”
“tapi,
dok. Aku tidak bisa membiarkan adikku curiga dengan penyakitku ini. Jika aku
harus mengikuti kemotherapy yang kau bilang itu, berarti aku harus dirawat inap
di rumah sakit ini, bukan? Bagaimana jika adikku tau tentang penyakit yang
kuderita selama ini?”
“Donghae~ssi.
Cepat atau lambat adikmu itu pasti akan mengetahui semua ini. Kau tentu ingin
sembuh ‘kan? Kau harus bicara dengan adikmu dan mulai melakukan terapi”
“Andwae.
Aku akan bertahan demi adikku. Dan, aku tidak akan mau mengikuti terapi bodoh
itu”
“lalu kau
mau apa sekarang?”
“aku
mohon. Berikan aku resep obat penghilang rasa sakit itu. Aku akan baik-baik
saja sampai orang tua kami pulang dari Amerika”
“ck.
Baiklah kalau begitu. aku tidak bisa memaksamu untuk mengikuti kemotherapy.
Akan kutuliskan resep obat itu. Tapi, jika terjadi apa-apa denganmu jangan
salahkan aku”
“Kamsahamnida.
Tenang saja, dok. Aku akan tetap hidup untuk menjaga adikku”
Apa yang
kudengar ini? Kenapa dia harus di Kemo ?? Apa jangan-jangan Donghae oppa sakit
- ..
***
Aku
menangis sejadinya di dalam kamarku sendiri. Semenjak mendengar bahwa Donghae
oppa menderita penyakit serius, air mata ini seakan tidak ada habisnya.
Sudah
hampir malam. Tapi mata ini masih saja menitihkan butiran-butiran kecil air
mata. Kenapa Donghae oppa harus menderita penyakit semacam itu.
Tuhan, aku sangat menyayangi Donghae oppa.
Seberapapun aku sering membentaknya, tapi jauh didalam hatiku aku sangat amat
mencintai oppaku satu-satunya itu. Aku mohon, biarkan dia bertahan hidup. Dia
oppa yang selalu ada untukku walaupun aku tidak pernah menginginkannya. Dia
oppa yang selalu menjagaku walaupun aku mencaci maki dirinya.
KREEKK …
Pintu
kamarku ada yang membuka tiba-tiba. Terkejut, akupun menghapus air mataku
kasar.
Donghae
oppa menghampiriku dan sedetik kemudian mengerutkan keningnya, “kau baik-baik
saja? Matamu kenapa sembab begini?”
Tak
kujawab pertanyaan itu. Suaranya yang terdengar tegar seakan tidak terjadi
apa-apa membuatku kembali menangis sesegukan.
Ia
mengulurkan tangannya dan mengusap pipiku lembut, “kenapa kau menangis? Apa
sesuatu terjadi padamu?”
Aku
menatapnya sendu,”oppa..” suaraku bergetar.
“ada apa
Hye Rim~a? katakan padaku” ia mengguncangkan bahuku. Tangisku kembali pecah.
Kupeluk
badannya yang kekar itu, “hikss.. gwaenchana oppa. Aku tidak apa-apa”
“ahh??
Benarkah? Menangis sesegukan begitu kau bilang tidak apa-apa?”
“hhehe…
aku hanya rindu padamu oppa. Belakangan ini ‘kan kita jarang mengobrol ataupun
bertemu” aku mencoba tidak menangis lagi. Setidaknya aku harus berusaha
membuatnya tidak terbebani karena aku mengetahui penyakitnya.
“ohh..
mianhae Hye Rim~a. itu karena aku sibuk dengan urusan kuliahku jadinya aku
jarang memerhatikanmu lagi. Tapi mulai detik ini aku akan menjagamu seperti
biasanya. Jangan harap kau bisa lepas dariku” ia mengelus rambutku lembut.
Akupun melepaskan pelukan dan menatapnya dengan senyuman yang sedikit
‘dipaksakan’
“kau
janji?” aku mengacungkan jari kelingkingku dan ia membalasnya dengan mengaitkan
jari kelingkingnya.
“Ne. Aku
janji”
***
“Hye
Rim~a” suara itu membuat darahku berdesir.
Aku
membalikkan badanku, “ohh? Kyu oppa. Ada apa?”
“belakangan
ini aku jarang melihatmu sepulang sekolah. Kau pulang bersama siapa?” aku
tersentak. Jelas saja, mulai saat itu aku selalu diantar dan dijemput Donghae
oppa. Hampir setiap hari aku selalu menghabiskan waktu dengannya. Menonton
film, bermain game, bahkan jalan-jalan ke tempat-tempat yang indah. Aku ingin
selalu bersamanya.
“engg..
aku.. aku dijemput oppaku” aku menjawabnya gelagapan.
Ia
memiringkan kepalanya, ragu akan jawaban yang kuberikan. “benarkah? Aku juga
tidak pernah melihatmu di luar kelas. Sebenarnya ada apa?”
“ck..
sudahlah. Kau tidak perlu tau !” aku berdecak kesal lalu meninggalkannya pergi.
Maafkan aku Kyuhyun oppa. Jeongmal mianhae. Aku harus menjaga Donghae oppa. Aku
tidak bisa berada didekatmu lagi.
Sepulang
sekolah…
“ahh..
oppa” aku melambaikan tanganku kearah namja yang sedang mengemudikan mobilnya.
Donghae oppa tau kalau keadaanya bisa drop kapan saja. Jadi ia berhenti
mengendarai motor. Walaupun ia beranggapan kalau sejak dulu ia memang ingin
membeli mobil dengan uangnya sendiri. Tapi sayangnya, aku tau kenyataan yang
sebenarnya tejadi.
Mobil itu
berhenti didepanku. Sesaat kemudian aku membuka handle pintunya dan duduk di
kursi penumpang.
“sudah
lama?” ia menatapku sembari tersenyum. Aku hanya menggeleng singkat.
“kita
akan langsung pulang?” aku menoleh kearahnya.
“sebaiknya
begitu. Kurasa aku tidak enak badan hari ini” ia menghela nafas panjang.
Seketika aku mengernyit dan menatapnya curiga.
“arkkhh..
kepalaku !!” ia berteriak sembari menekan kepalanya.
Akupun
panik “oppa? Gwaenchanayo?? Ka-kau pindah ke belakang. Biar aku yang menyetir”
ia mengangguk lalu pindah ke kursi penumpang.
“Tapi,
kau ‘kan?” ia memandangku meneliti. Heran kenapa aku meminta untuk menyetir.
“Tenang
saja. Aku bisa menyetir mobil dengan baik. Sekarang kita ke rumah sakit ya?” mataku
mulai basah. Panik ! panik !
Ia
menggelengkan kepalanya “andwae. Kita pulang saja”
Aku
menatapnya kesal. Kenapa sih dia tidak mau diobati ?! “kenapa?! Bukankah lebih
baik kita ke rumah sakit?!” suaraku meninggi. Aku benar-benar emosi dibuatnya.
“jangan.
Aku tidak perlu ke rumah sakit. Barangkali aku hanya kelelahan dan perlu
istirahat” apa? kelelahan? Bahkan dia sudah jarang masuk kuliah belakangan ini
! lalu kelelahan apa lagi itu ?!
“mworago?!
Kelelahan apa maksudmu ?!! kelelahan karena kau menahan penyakitmu itu ?!!
kelelahan memikirkan kau harus di kemo atau tidak ?!! kelelahan mencari akal
agar aku tidak mengetahui penderitaanmu ?!!! begitukah ?!!!” aku mulai bersikap
sarkastik. “Sudahlah oppa ! aku tahu ! aku mengetahui semua !! aku mengetahui
kau menderita kanker, yang entah apa namanya aku tidak mau tau ! aku melihatmu
menenggak obat-obat penghilang rasa sakit itu ! aku mendengar semua
pembicaraanmu dengan dokter !!” tangisku pecah.
Tatapanku
berubah menjadi seduktif padanya,”kau mau menyembunyikan apalagi dariku, oppa?”
aku mendengus kesal.
“Hye
Rim~a.. aku-“ kulihat matanya sudah memerah. Ia menatapku sendu.
“cukup !
aku tidak mau mendengar alasanmu lagi. Sekarang juga kita pergi ke dokter ! aku
tidak bisa diam-diam melihatmu menahan penderitaan seperti itu”
Aku mulai
menyetir mobil, tangisku masih terisak. Mungkin kalian bertanya bagaimana aku
bisa menyetir mobil sementara Donghae oppa selalu overprotektif padaku. Ya,
selama ini diam-diam aku meminta bantuan teman sekelasku yang bernama Jinki.
Setiap hari minggu aku membuat alasan kalau aku akan mengerjakan tugas
kelompok. Disanalah Jinki mulai mengajariku cara menyetir mobil. Sampai saat
ini, usahaku tidak sia-sia. Aku bisa mengendarai mobil dengan baik.
Beberapa
menit kemudian, kami sampai di rumah sakit. Aku membopongnya menuju ruang UGD
dan dokterpun datang didampingi suster-susternya. Dokter itu, dokter yang aku
lihat bersama oppaku beberapa hari yang lalu.
Ahjussi
itu mulai memeriksa keadaan Donghae oppa. Sedetik kemudian aku melihatnya
berdecak dan menggelengkan kepalanya.
“bawa ia
ke ruang perawatan. Kita harus cepat bertindak” ucap dokter itu diterima
angggukan 2 suster yang mendampinginya.
Akupun menghampiri,
“bagaimana keadaannya, dok? Kenapa ia harus dirawat disini?” aku kembali panic.
Tanganku mengguncangkan lengan dokter itu.
“apakah
kau yang bernama Lee Hye Rim? Yeodongsaeng Lee Donghae~ssi?” aku mengangguk
kuat. “ikut aku keruanganku” ujarnya.
***
“Marhaebwa.
Apa yang terjadi pada oppaku?” dokter itu memalingkan wajahnya. Mataku sudah
memerah. Tubuhku bergetar.
Ia
menghela nafas panjang, lalu berkata “Oppamu mengidap penyakit kanker otak
stadium akhir. Beberapa hari yang lalu, aku sudah berusaha membujuknya untuk
mengikuti terapi. Tapi ia bersikeras menolaknya. Ia berasumsi bahwa ia akan
tetap hidup untuk menjaga adiknya. Hidupnya sangat terbatas. Sewaktu-waktu ia bisa pergi kapan saja. Jika
sekarang mengikuti kemotherapy pun tidak akan ada gunanya, karena sel-sel
kanker itu sudah hampir menguasai seluruh jaringan otaknya”
Dadaku
sesak. Air mataku membanjiri wajahku. Hatiku serasa dihantam benda keras. Aku
mengutuk telingaku yang mendengar langsung semuanya.
Oh
Tuhan.. apa yang harus kulakukan sekarang?
Aku
keluar dari ruangan dokter itu. Dokter yang memvonis kematian Donghae oppa.
Kematian ?? cshh .. kenapa dia bisa bicara seperti itu tentang oppaku. Apakah
dia Tuhan yang bisa mengetahui segalanya?! Apakah dia yang mengendalikan hidup
Donghae oppa ?! aku terkekeh dalam hati. Donghae oppa. Dia tidak akan mati. Ia
sudah berjanji akan selalu berada disampingku, menjagaku sampai akhir hayatnya.
Dia akan bertahan demi aku. Ya, demi aku.
Tak jauh
dari tempatku berdiri nampak sebuah ruangan putih yang pintunya sedikit
terbuka. Aku melangkahkan kakiku memasuki ruangan itu. Kudorong knop pintunya
perlahan. Seorang namja terkulai lemas diatas ranjang ruangan itu. Ia masih
sadar walaupun matanya seakan terpejam. Aku berjalan gontai menghampirinya dan
menarik sebuah kursi lalu duduk disebelah ranjangnya. Ia melihatku sambil
tersenyum, “jangan menangis lagi” ujarnya.
“oppa..”
suaraku lirih. Ia mengulurkan tangannya dan membelai wajahku, “lihatlah,
wajahmu tak akan cantik lagi jika air matamu terus mengalir”
Aku
menggenggam tangannya kuat, kupejamkan mataku. Tidak ingin ia pergi dariku.
“mianhaeyo,
Hye Rim~a. Aku tidak bermaksud menyembunyikan penderitaanku selama ini. Aku
hanya ingin melihatmu hidup tenang tanpa bayang-bayang diriku. Maaf jika aku
selalu bersikap overprotektif padamu. Aku tidak ingin kau terluka walau hanya
tergores” ia mengelus rambutku.
Aku
menatapnya, “Eomma dan Appa. Mereka tau??” ia menggeleng dan melepaskan
genggamanku. “mereka tidak. Aku tidak pernah memberitau apapun kepada mereka”
ia mendongak menatap langit-langit ruangan ini.
“jadi,
selama ini kau menderita seorang diri? Waeyo?” ia menghembuskan nafas berat,
tak menggubris pertanyaanku.
“aku
baik-baik saja Hye Rim~a. Tenanglah. Bahkan sekarangpun aku bisa berlari” ia
menyunggingkan senyumnya dan menatapku. “baru beberapa jam saja aku sudah bosan
berada diruangan ini. Aku ingin ke atap gedung, kau mau ikut?” lanjutnya.
Seutas senyuman terukir di sudut bibirku, aku mengangguk mengiyakan.
Hari
hampir gelap, beberapa menit lagi matahari akan tenggelam. Kami duduk di tepi
gedung ini sambil memandangi langit Kota Seoul. Ia menyenderkan kepalanya
dibahuku.
“Hye
Rim~a” ucapnya. “hmm?” aku bergumam
“apa kau
tidak lelah? Dari tadi kau menemaniku terus. Apakah kau bosan?” ujarnya.
“aniyo.. aku senang berada disisimu, oppa” jawabku.
“mworago?
Kau tidak lelah. Tapi aku sangat lelah. Badanku terasa berat sekali” aku
mendelik kearahnya, “apa maksudmu?” aku mulai merasa tidak nyaman dengan
kata-katanya.
“Lee Hye
Rim. Setauku kau adalah yeoja yang kuat. Kenapa menangis terus? Memangnya kau
mau diejek cengeng? Jika seperti ini terus, aku sebagai oppamu akan merasa
sangat malu” air mataku mengalir dari pelupuk mataku untuk yang kesekian
kalinya.
“aku
tidak mau mempunyai dongsaeng yang lemah sepertimu. Bagaimana jika tidak ada
namja yang mau denganmu?” lanjutnya. Aku semakin terisak. “arasseo, oppa”
suaraku bergetar.
“Hye Rim,
siapa nama oppamu satu-satunya ini?” suaranya semakin lemah. Akupun menjawabnya
dengan lirih, “Lee ..Donghae.. Oppaku adalah Lee Donghae” ia tersenyum puas
mendengarnya.
“hey..
matahari akan segera tenggelam. Ayo kita hitung mundur” ucapnya seraya menunjuk
matahari. “aku akan hitung mundur dari sepuluh sampai enam, sisanya kau yang
lanjutkan ya..” aku hanya mengangguk ringan.
Dia pun
mulai menghitung, “10, 9, 8, 7, 6. Ayo lanjutkan ..”sungutnya dengan nada
serak.
“5, 4, 3,
2, 1. Indah sekali oppa” aku pun tak luput memandangi panorama itu.
Hingga
kepala Donghae oppa semakin terasa berat bersandar di bahuku. Aku meliriknya,
“oppa?” panggilku. Tak ada respon darinya. Tubuhnya kini jatuh di pangkuanku.
Kuguncangkan badannya dengan kasar. Kaku. Dingin. Akupun mulai panik. Kuraih
tangan kanannya dan menekan urat nadinya. Berhenti. Tak ada denyut jantung
disana. Aku meletakkan telunjukku dibawah hidungnya. Tak ada hembusan nafas
disana.
“OPPA
!!!”
***
-Author
POV-
“Hye
Rim~a. Hari ini abu kremasi oppamu sudah bisa diambil di rumah sakit. Kau mau
mengambilnya?” ujar seorang namja pada yeoja yang tengah duduk di sudut ruangan
sembari menatap keluar jendela. Matanya memang memandangi pemandangan di luar,
tapi pikirannya kosong.
Namja
tinggi bernama Kyuhyun hanya menatap yeoja itu kasihan. “Hye Rim. Oppamu tidak
akan bisa tenang di alam sana jika kau seperti ini terus” lanjut Kyuhyun. Sunyi.
Yeoja itu hanya diam membisu. Seakan dunia hanya miliknya seorang.
“kalau
begitu aku yang akan mengambilnya. Besok kita ke pantai bersama-sama, ne?”
Kyuhyun seperti namja yang tidak waras. Berbicara sendiri tanpa ada yang
mempedulikan. Tanpa disadari, yeoja itu bergumam, “arasseo”.
Kyuhyun
pun mengendarai mobilnya menuju rumah sakit tempat Donghae di kremasi.
Sementara itu Hye Rim tetap pada posisinya. Memandang hampa di sudut ruangan.
Dengan mata yang sudah membengkak dan merah. Wajah yang lembab. Baju yang basah
akan air mata yang mengalir tiada hentinya. Baginya, Donghae adalah
satu-satunya orang yang mengerti dirinya melebihi orangtuanya sendiri.
Terdengar
suara telepon rumahnya yang memecah kesunyian. Ia tak sedikitpun beranjak dari
tempatnya. Berulang kali telepon itu berdering hingga membuat Hye Rim luluh dan
menghampiri letak telepon itu di ruangan tengah. Diangkatnya gagang telepon
itu, lalu terdengar suara berat dari seberang sana, “apakah ini benar kediaman
tuan Lee Sungmin dan nyonya Oh Yoon Mi?”
“Ne. ada
apa?” Hye Rim hanya menjawab singkat.
“beberapa
jam yang lalu, terjadi kecelakaan pesawat dari Amerika dengan tujuan Korea
Selatan. Nama orang yang saya sebutkan tadi adalah 2 dari puluhan korban tewas
dalam kecelakaan tersebut. Apa anda anggota keluarganya??” jelas orang itu dari
kejauhan.
Gagang
telepon yang dipegangnya terjatuh hingga menggantung. Ia terduduk lemas. Tak
ayal lagi-lagi butiran-butiran air mata membentuk sungai kecil di pipi mulusnya
itu. Hye Rim diam bagaikan patung. Nafasnya benar-benar tercekat. Tangannya
memeluk lutut dan menenggelamkan kepalanya disana. Tak sepatah katapun keluar
dari mulutnya. Yang ada hanya isakan tangis yang mengisi setiap sudut rumah
itu.
Tak
selang beberapa lama, Kyuhyun pun kembali dengan membawa bungkusan kain putih.
Hendak memasuki rumah itu, suara tangisan lagi-lagi terdengar di gendang
telinganya. Tanpa berpikir panjang, ia sudah mengenali isakan itu. Ia
mengedarkan pandangannya ke seisi rumah itu. Matanya berhenti pada seorang
yeoja yang tengah duduk meringkuk di dekat meja telepon. Pandangannya beralih
pada gagang telepon yang masih menggantung. ‘ada apa ini?’ pekiknya dalam hati.
Ia
menghampiri Hye Rim dan memegang pundaknya, “ada apa lagi? Apa sesuatu telah
terjadi?” Tanya Kyuhyun. Tetap sama. Tak ada jawaban. Kyuhyun hanya merasakan
pundak yeoja itu bergetar.
“aku
mohon. Jangan seperti ini, Hye Rim~a” ujar Kyuhyun. Yeoja itu mendongakkan
kepalanya menatap Kyuhyun dengan kelopak mata yang sudah menghitam.
“marhaebwa.
Bicaralah padaku” kyuhyun mengguncangkan bahu Hye Rim. Namun Hye Rim segera
mengalihkan tatapannya.
Kyuhyun
mencoba mencari tau apa yang terjadi, dilihatnya gagang telepon itu dan segera
mendekatkannya ke telinga. Suara berat seorang ahjussi pun masih terdengar,
“halo? Apa anda masih disana? Kalau anda memang kerabat dekat tuan Lee Sungmin
dan nyonya Oh Yoon Mi, anda bisa melihat jenazahnya di Rumah Sakit Pusat Seoul”
ucap ahjussi itu dari seberang sana.
Sama
seperti Hye Rim, Kyuhyun pun tersentak mendengarnya. Diputuskannya sambungan
telepon itu. ‘Oh Tuhan.. betapa berat cobaan yang kau berikan pada gadis ini.
Hentikanlah penderitaanya’ doa Kyuhyun dalam hati. Tangannya bergerak memeluk
Hye Rim dan membenamkan kepala yeoja itu pada dadanya. Dapat dirasakan
bagaimana guncangan hati Hye Rim saat ini.
***
Hye Rim
menaburkan abu kremasi orangtuanya dan oppanya. Air matanya sudah mengering. Ia
tidak bisa menangis lagi. Tiga orang yang ia sayangi pergi begitu saja
meninggalkannya sendirian hidup di dunia ini. Kyuhyun merangkul yeoja itu
sembari menepuk pelan bahunya. “mereka akan tenang disana” kyuhyun mencoba
menenangkan. Tetapi tetap saja, hingga saat ini Hye Rim enggan berbicara dengan
siapapun. Bahkan ia menghentikan kegiatan sekolahnya hanya untuk mengurung diri
di rumah.
Kyuhyun
yang tidak tega membiarkan yeoja yang diam-diam ia cintai ini hidup
sebatangkara, ia meminta izin pada orang tuanya untuk menemani Hye Rim hingga
keadaanya kembali seperti semula. Walau awalnya orang tuanya menentang, tetapi
akhirnya mereka pun menyetujuinya dengan dasar kasihan.
Hampir 2
minggu sudah Kyuhyun tinggal satu atap dengan Hye Rim. Namun yeoja itu tak
pernah menganggap kehadirannya. Kyuhyun mencoba mengajaknya berbicara dan
bercanda, keadaan tidak berubah, Hye Rim tetap tidak merespon bahkan tak
mengeluarkan sepatah katapun.
Keadaan
itu tidak mengurungkan niat Kyuhyun untuk menghiburnya. Tak jarang Kyuhyun
memasakkan makanan untuk Hye Rim, walau pada akhirnya yeoja itu membanting
nampan yang dibawa Kyuhyun dan pergi meninggalkannya.
Namja itu
tetap tegar. Ia tidak merasa kesal sedikitpun. Hingga pada suatu hari sebuah
ide terbesit di pikirannya. Ia membuka pintu kamar Hye Rim yang sedang duduk
melamun di atas ranjang.
“Hye
Rim~a. kita jalan-jalan yuk?” ajak Kyuhyun. Yeoja itu hanya diam saja dan
mengalihkan pandangannya. “ohh.. ayolah Hye Rim. Kita bisa bersenang-senang
hari ini” Kyuhyun menggenggam tangan Hye Rim, dan segera ditepis oleh yeoja itu
sendiri. “sudahlah jangan mengelak’ dengan sedikit paksaan akhirnya Hye Rim
mengikuti Kyuhyun.
***
“kau mau
membeli sesuatu?” Tanya Kyuhyun saat mereka sedang di Taman Hiburan. Kyuhyun
sengaja mengajak Hye Rim ketempat ini hanya sekedar bermain-main, ia yakin
sedikit demi sedikit Hye Rim bisa melupakan kejadian-kejadian yang mengguncang
hati yeoja itu.
Kyuhyun
dan Hye Rim berjalan-jalan mengelilingi seisi tempat itu. Wajah suram Hye Rim
pun perlahan berubah walaupun senyuman masih belum menghiasinya. “kau suka
permen kapas? Mau aku belikan?” Kyuhyun bertanya untuk yang kesekian kalinya.
Hye Rim tetap enggan mengeluarkan suara. “ahjussi, aku beli ini satu ya” ujar
Kyuhyun pada penjual permen kapas itu.
Mereka
lalu duduk di sebuah bangku kayu yang menghadap ke danau. “ayo makan ini.
Sangat manis sama seperti wajahmu jika tersenyum” goda Kyuhyun ingin menyuapi
permen kapas itu ke mulut Hye Rim. Yeoja itu mengalihkan pandangannya. Kyuhyun
tetap memaksa. Akhirnya walau sedikit ragu, Hye Rim membuka mulutnya dan
memakan permen kapas itu. Sebuah senyuman pun terukir di kedua sudut bibir Hye
Rim. Senyuman pertama semenjak Hye Rim kehilangan keluarganya. “akhirnya aku
bisa membuatmu tersenyum” kata Kyuhyun. Hye Rim hanya menunduk menyembunyikan
semburat merah dipipinya.
Kyuhyun
kembali mengajak Hye Rim jalan-jalan. Ia berhenti di sebuah stand asesoris.
“lihatlah” ucap Kyuhyun sembari memakai telinga kelinci buatan di kepalanya.
Tak disangka, Hye Rim tertawa ringan melihat tingkah laku namja itu. Kyuhyun
pun semakin semangat menghibur hati Hye Rim. Pandangannya beralih pada sebuah
gantungan kunci yang bergambar monyet, “bukankah itu lucu?” Kyuhyun menunjuk
gantungan itu pada Hye Rim. Yeoja itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
Sepatah katapun belum juga keluar dari mulut Hye Rim. Ia bagai orang bisu sejak
dilahirkan ke dunia.
“ahjumma,
aku beli gantungan kunci ini dua” ujar Kyuhyun sambil mengeluarkan beberapa
lembar uang dari dompetnya. “untukmu satu, dan satunya lagi untukku” Kyuhyun
memberikan satu gantungan kunci yang baru saja dibelinya. Senyuman Hye Rim
semakin mengembang.
Perjalanan
mereka dilanjutkan lagi. Beban yang dirasakan Hye Rim perlahan-lahan sirna oleh
namja ini. Kyuhyun mampu merubah keterpurukan menjadi kegembiraan meskipun Hye
Rim masih enggan berbicara.
Kini
mereka berhenti di sebuah toko kecil yang menjual berbagai macam tas dan
sepatu. Kyuhyun mengajak Hye Rim masuk dan melihat-lihat sesuatu. “tas ini
cocok untukmu. Aku belikan ya” kata Kyuhyun memperlihatkan tas gandeng berwarna
silver yang berhiaskan mutiara kecil di setiap sudutnya. Hye Rim menggeleng
pada awalnya, namun Kyuhyun tidak mempedulikan dan beranjak menuju kasir toko
tersebut.
Setelah
membayarnya, Kyuhyun memberikan tas itu untuk dipakai Hye Rim.”oh iya.. mana
gantungan kunci yang kuberikan tadi?” Tanya Kyuhyun. Hye Rim pun merogoh
sesuatu dalam saku celananya dan memberikannya pada Kyuhyun. Namja itu
berjongkok kemudian mengaitkan gantungan kunci itu pada salah satu resleting
tas tadi. “bagus kan? Punyaku akan kupasang di kunci mobilku” ujar Kyuhyun. Hye
Rim kembali menyunggingkan senyumnya sambil melihat tas barunya itu.
Beberapa
menit kemudian mereka keluar dari toko kecil itu. Jalanan kota Seoul saat itu
sedang padat dengan kendaraan, lautan manusia juga tumpah ruah di setiap sudut
kota itu. Ditambah lagi dengan temperature udara yang panas walaupun jam sudah
menunjukkan pukul 06.30 sore.
Mobil
Kyuhyun terparkir di seberang jalan. Merekapun menuju ke penyebrangan jalan.
Entah karena hari itu adalah hari Minggu atau mungkin ada yang mengadakan acara
di hari dan jam yang sama. Jalanan benar-benar ramai akan kendaraan dan pejalan
kaki.
Hye Rim
dan Kyuhyun terpaksa menyebrang dengan berdesak-desakan dengan penyebrang lain.
Tak sedikit dari mereka yang menggerutu karena tertabrak penyebrang yang
berlawanan arah. Setelah sampai di seberang jalan, Hye Rim menyadari bahwa
gantungan kunci yang diberikan Kyuhyun tadi terjatuh saat berdesakan. Yeoja itu
menarik lengan Kyuhyun,”ada apa?” Tanya Kyuhyun. Hye Rim menunjuk ke resleting
tasnya itu. “apa gantungan kunci itu terjatuh?” Tanya Kyuhyun lagi. Hye Rim
mengangguk dan melihat ke arah zebra cross tadi. Ia lalu mengisyaratkan agar
Kyuhyun menunggunya disini dan ia akan mengambil gantungan kunci itu. “jangan.
Sebaiknya kau yang tunggu disini. Aku akan mengambilnya” ucap Kyuhyun.
Dilihatnya
lampu tanda bagi penyebrang jalan masih hijau. Ia pun segera berlari ke tengah
jalan dan menggamit gantungan kunci itu. Sedetik kemudian, lampu penyebrang
jalan itu berubah menjadi merah. Kendaraan yang semula berhenti kini melaju
kencang. Kyuhyun yang menyadari dirinya dalam bahaya lalu berusaha lari ke pinggir
jalan. Namun sudah terlambat baginya. Sebuah mobil melesat menghantam tubuhnya
hingga terpental ke trotoar jalan.
“OPPA
!!!” teriak Hye Rim. Satu kata yang akhirnya keluar dari mulut yeoja itu.
Orang-orang yang berada disekitar mengerumuni Kyuhyun. Hye Rim pun berlari
kearah kerumunan itu dan mendapati darah segar mengalir di sekujur tubuh
Kyuhyun. Diletakkannya kepala namja itu pada lengannya. “siapa saja. Tolong
hubungi ambulance ! cepaatt !!” ucap Hye Rim pada orang-orang yang
mengerumuninya itu. “oppa, bertahanlah. Aku mohon” Hye Rim panik. Kyuhyun pun
membuka matanya perlahan walau dihalangi aliran darah dari kepalanya. “akhirnya
aku bisa mendengar suaramu lagi, Hye Rim~a” suara Kyuhyun lemah. Ia membuka
telapak tangan kanannya dan memberikan gantungan kunci yang sudah berlumuran
darah pada Hye Rim. Seketika mata Kyuhyun kembali terpejam dan tubuhnya menjadi
lebih berat. “ANDWAE !! OPPA !!”
***
Hye Rim
kembali berdiri di pesisir pantai itu lagi. Pantai tempat ia menabur abu
kremasi orang tua dan oppanya. Kini ia harus melakukannya lagi. Ia membuka
bungkusan kain putih dan menggenggam butiran-butiran seperti debu. Ia
menebarkannya ke ombak pantai itu. Hatinya lagi-lagi terguncang.
Lengkap
sudah. Appa, Eomma, Donghae oppa, bahkan Kyuhyun. Semuanya telah pergi. Air
matanya kembali mengalir dari sudut matanya. Ingin rasanya ia menyusul
orang-orang itu.
Dengan
tingkat kesadaran yang masih tinggi, ia melangkahkan kakinya semakin dalam ke
pantai itu. Deburan ombak sudah mencapai lututnya tapi ia tetap memandang lurus
kedepan. Kenangan-kenangan bersama keluarganya dan Kyuhyun melayang-layang
dipikirannya.
Air laut
kini mencapai lehernya. Badan Hye Rim terhuyung bersama gelombang laut. Tak
banyak yang ia pikirkan. “tunggulah aku disana. Aku segera menyusul” gumamnya.
Hye Rim memejamkan matanya dan membiarkan air laut menenggelamkan dirinya.
Entah kemana ombak akan membawa tubuhnya. Yang pasti, hanya satu tujuannya saat
ini, Surga.
--THE
END--
gomawo
for read ^^ leave a coment, please?? Kalian pasti ngerti kalo udah susah-susah
buat ff, tapi gak di koment?? Rasanya gimana?? Hhehe .. kasi komen yaa.. jeball
.. kritikan juga gapapa ^^ yayaya?? *tariktariklenganreaders .. jeballl ..
yayaya?? #oke cukup

Tidak ada komentar:
Posting Komentar