Rabu, 14 Maret 2012

DEATH LOVE


Author         : Shin Sung Rin
Cast            : Lee Donghae, Lee Hye Rim, Cho Kyuhyun
Category      : One Shoot
Genre          : Sad, Tragedy
***
No bachot :D
 Happy reading all ^^

-Author POV-
“bisakah kau percepat langkahmu? Ini sudah lewat 5 menit jam pertama kuliahku” seorang namja menghentakan kakinya kesal pada seorang gadis yang tengah berlari kearahnya.
“Ne. Aku sudah berusaha cepat” gadis itu mengelak dan memandang innocent pada namja dihadapannya.
Namja itu tak menggubris pandangan gadis dihadapannya dan langsung menaiki motor sportnya yang digas kencang.

Selang beberapa menit kemudian motor itu berhenti didepan sebuah gedung besar bertingkat.
‘Paran Highschool’ begitulah nama itu terpampang megah di depan gedung itu.
“kau bisa pulang sendiri ‘kan? Aku tidak bisa menjemputmu hari ini” ucap namja itu sebelum gadis yang baru saja turun dari motornya beranjak.
“aku akan naik bus saja” ucap gadis itu.
“Andwae. Aku akan menyuruh Jang Ahjussi menjemputmu” namja itu bersikeras.
“lebih baik kau pergi sekarang ! kau bilang tadi bahwa kau sudah terlambat bukan? Cepat pergi sanah!” teriak sang gadis dan langsung berlari memasuki sekolahnya.
***
-Lee Hye Rim POV-
Apa dia harus selalu overprotektiv seperti itu padaku?! Memangnya dia kira aku ini anak kecil apa?!
Aishh.. aku sudah muak dengannya ! kenapa aku ditakdirkan memiliki oppa seperti dia sih?! Hidup ini memang tidak adil !!
“Annyeong, Hye Rim~ssi. Kenapa mukamu cemberut seperti itu?” Ji Eun temanku datang menghampiriku.
“mungkin tanpa aku jelaskan kau sudah tau penyebabnya” jawabku ketus.
“ckckck.. bisakah kalian itu tidak bertengkar sehari saja? Huhh?” Ji Eun berdecak dan melihatku heran.
“jika diperbolehkan. Aku ingin bertukar kehidupan denganmu” jawabku lagi dengan nada serius.
“ehh?? Memangnya kenapa?” Tanya Ji Eun penasaran.
“kau itu beruntung memiliki seorang oppa yang lucu dan manis seperti Ryeowook sunbae. Aku? Aishh.. betapa aku meratapi kehidupanku yang malang ini” ujarku dengan tangan yang menengadahkan ke udara.
“malang kau bilang? Yak ! Lee Donghae. Seorang mantan sunbae di sekolah ini yang sangat jenius sampai menjadi murid teladan, kapten tim basket, idola yang banyak dikejar-kejar para wanita. Itu kau bilang nasibmu malang?” jelas Ji Eun panjang kali lebar (?)
“kalau kau ada diposisiku. Kau akan tau bagaimana rasanya” ucapku sambil membaca sebuah buku diatas mejaku.
“ahh.. sudahlah. Aku bosan berdebat denganmu” Ji Eun yang tadinya duduk disebelahku menghilang secepat kilat dalam sekejap.

Saat istirahat …
“Hye Rim. Aku mau kekantin. Kau mau ikut?” Ji Eun yang telah kembali dari alambaka (?) muncul tiba-tiba dihadapanku.
“tidak. Aku tidak lapar. Kau pergi saja” ucapku dingin dan kembali memfokuskan pada buku pelajaran.
“yasudah” ucapnya singkat dan kembali menghilang. Dia itu manusia bukan sih?!

‘Hmm… bosan juga berada dikelas sendirian’ sungutku mengedarkan pandangan keseluruh kelas.
Sepertinya nyaman kalau aku membaca buku ini di halaman belakang sekolah. Akupun beranjak dari bangkuku dan berjalan menuju sebuah halaman luas di belakang gedung sekolah.
Aku menduduki sebuah kursi panjang dan menyenderkan tubuhku disana. Hening sekali disini..

Kubuka bukuku dan mulai membacanya lagi. Sampai kudengar suara petikan senar gitar tak jauh dari tempatku berada.
Penasaran. Kucoba melihat sekeliling taman ini dan menangkap seseorang yang tengah duduk dibawah pohon yang rindang. Dipangkunya sebuah gitar berwarna coklat pohon dan memetik senarnya satu persatu sembari memejamkan mata.

Tidak jelas. Siapa namja itu?. Kakiku melangkah mendekatinya perlahan agar ia tidak terkejut.
Teetttt… teeetttt…
Langkah kakiku terhenti setelah mendengar bel tanda jam istirahat sudah berakhir. Namja itu bangun dan beranjak dari tempatnya. Sekilas kulihat siluet wajahnya. Hanya sekilas. Aku tidak yakin akan mengingatnya.

Jam pelajaran sekolah berakhir…
“aishh… apa benar ia menyuruh Jang Ahjussi menjemputku hari ini? Kenapa belum datang juga?!” aku menggerutu kesal didepan gerbang sekolah. Kalau sampai satu jam aku menunggu disini, aku akan memakan oppaku sendiri hidup-hidup !
“Hye Rim? Tumben sekali jam segini kamu belum dijemput. Mana oppamu?” Ji Eun muncul lagi. Seperti biasa, secara tiba-tiba.
“makanya aku bilang dia menyebalkan” gerutuku kembali sambil sesekali menengok kearah jalanan.
“kau mau pulang bersamaku?” tawar Ji Eun.
“tidak usah. Terimakasih. Jang Ahjussi akan menjemputku” aku menolak tawaran Ji Eun.
“Yasudah kalau begitu. aku duluan ya” ucapnya menjauh dariku.
Hampir setengah jam aku menunggu Jang Ahjussi. Tapi kenapa belum muncul juga?!
Kurogoh tasku mengambil sebuah handphone dan menekan beberapa nomor disana.
“Ne. ada apa?” suara namja terdengar dari seberang sana.
“mana Jang Ahjussi?! Kenapa dia belum datang menjemputku?” akupun berbicara keras mengisyaratkan kalau aku sudah bosan menunggu jemputan.
“tunggu saja. Tadi ia menelfonku dan katanya ia sedang dirumah sakit bersama istrinya” jelasnya lalu menutup telfon.

‘berapa lama lagi, Tuhan?!’ pekikku sembari mondar mandir gelisah.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti dihadapanku dan kaca terbuka. Terlihatlah seorang namja menengok kearahku dan tersenyum.
“Annyeong. Kau belum pulang?” siluet wajahnya tersirat dalam otakku. Namja ini, bukannya yang ditaman belakang tadi ?
“ahh.. ne. aku menunggu jemputan” jawabku menunduk. Oh God, wajahnya begitu silau bagiku.
“benarkah? Kau sendirian disini. Apa tidak takut?” dia keluar dari mobilnya dan mendekat kearahku. Oke, jantungku tak bekerja dengan benar saat ini -.-“
“ani. Se-sebentar lagi ada yang menjemputku” dia hanya mengangguk kecil dan menyandar pada mobil audi silvernya itu. Sungguh, dia bagai malaikat tanpa sayap yang turun dari langit.
Hampir setengah jam untuk yang kedua kalinya aku menunggu Jang ahjussi menjemputku. Setengah jam pula namja ini berdiri dekat mobilnya. Entah ia menungguku agar aku dijemput atau ada keperluan lain. Yang jelas detak jantungku serasa dipompa dengat sangat amat cepat. Aku gugup.
“kau yakin akan dijemput? Sudah setengah jam aku menunggu jemputanmu” what?!!! Dia menunggu jemputanku?? Apa telingaku tidak salah dengar?! Sepertinya aku harus ke dokter THT
“entahlah” Aku hanya menjawab sekedarnya. Seketika matanya membulat namun sedetik kemudian ia mulai bersikap biasa.
“kau mau pulang denganku?” tanyanya singkat dan kini giliran mataku yang membulat sempurna. Dia tidak bergurau ‘kan?
“mwo?! Pu-pulang de-denganmu?” ia mengangguk antusias dan langsung menggenggam tanganku menuju mobilnya. Kalian tau? jantungku serasa ingin keluar dari tempatnya. IA MENGGENGGAM TANGANKU !!!
“oiya, rumahmu dimana?” aku yang terpaku atas perlakuannya tadipun hanya bisa melongo. Dia benar-benar akan mengantarku pulang !

***
“Gomawo, eng..” kataku terpotong sembari menatapnya ragu. Semenjak pulang sekolah tadi, aku belum menanyakan namanya -.-
“Cho Kyuhyun. Panggil saja aku Kyuhyun. Dan.. kau?” ia balik bertanya. Tatapannya itu, astaga aku ingin melayang. Siapa mau ikut ? (?)
“Aku Lee Hye Rim. Kau bisa memanggilku Hye Rim” kini kuberanikan diri menatapnya. Sedetik kemudian aku kembali menunduk. Aku benar-benar salah tingkah jika bersamanya.
“Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa Hye Rim~a” ia kembali memasuki mobilnya dan menancapkan gasnya.
Aku berjalan memasuki rumahku yang terkesan tidak terlalu mewah. Yahh.. Appa dan Eommaku sedang ada urusan di luar negeri dan dirumah aku hanya tinggal bersama Oppaku, siapa lagi kalau bukan Lee Donghae si wajah ikan itu (#author dibakar ELFish).
“Hahh… sepertinya aku mencintai namja itu” gumamku meraih handle pintu. Hingga sebuah suara terdengar didekatku berhasil membuat bulu kudukku berdiri.
“siapa namja itu?!” Donghae oppa menatapku tajam. Ia berjalan mendekatiku. Seketika aku pun bergerak mundur. Oh tidak, aku telah memancing ikan hiu ganas yang bersiap menyantapku.
“a-apa maksudmu?”jawabku berusaha setenang mungkin agar ia tidak curiga. Jika aku berkata jujur, aku yakin besok aku tidak akan bisa sekolah lagi.
“namja itu. Yang mengantarmu pulang tadi dan… yang membuatmu jatuh cinta” kata-kata terakhirnya tadi, kenapa nadanya seperti itu? Seperti orang yang sedang patah hati saja.
“bu-bukan siapa-siapa. Dia hanya temanku.. hhehe. Begitulah” ujarku gugup.
“teman yang kau cintai ?” SKAK MATT !!! aku kehabisan kata-kata. Seseorang, tolong aku T_T
“ka-kau ti-tidak perlu ta-tau” ucapku gelagapan seperti habis maling ayam tetangga sebelah. Dengan sigap aku masuk kekamarku dan menguncinya dari dalam. Selamaatt…
“Yakk !! Hye Rim ! kau belum menjawab pertanyaanku ! Siapa namja itu ! Hye Rim~a” suara namja menyebalkan itu menggelegar dibalik pintu. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang menjauh dari kamarku. Dia sudah pergi..

Kurebahkan tubuhku di kasur empuk kamarku. Menunggu Jang Ahjussi membuat kakiku mati rasa.
Seketika wajah tampan nan rupawan itu terlintas di pikiranku. Cho Kyuhyun. Apa dia sudah punya yeojachingu?
Aku menatap langit-langit kamarku. Seakan wajah namja itu terpampang jelas lengkap dengan senyum khasnya. Membuatku tak berkedip sedetikpun.
***

Kulangkahkan kakiku malas menuju kelasku. Hari ini aku berangkat pagi-pagi sekali. Kenapa? Tentu saja untuk menghindari namja ikan itu. Jika hari ini aku tetap berangkat sekolah dengannya, pasti ribuan pertanyaan akan dihujamkannya padaku. Tapi itu tidak akan terjadi, karena aku sudah ada di sekolah ^^
“sepagi ini mana ada yang sudah datang” dengusku kesal sambil meletakkan tasku asal.
“Annyeong” suara yang tak asing lagi membuat aliran darahku berdesir. Cho Kyuhyun !
“ahh.. oppa. Mengagetkanku saja” kini aku sudah tak gugup lagi menatapnya. Malah sekarang aku ingin melihat wajahnya terus.
“oppa? Kau memanggilku oppa? Wahh.. tidak kusangka kau bisa memanggilku oppa. Hhaha” ia terkekeh geli mendengar ucapanku barusan. Memangnya kenapa? Tidak boleh ?!
“kalau begitu maaf. Aku tidak akan memanggilmu seperti itu” aku kembali menunduk malu. Ahh.. dasar. Kenapa aku bisa sok akrab seperti itu yah ?!
“Ehh.. bukan begitu maksudku. Aku kira kau tidak akan sudi memanggilku dengan embel-embel ‘oppa’”
Baru saja aku ingin bertanya lagi, ia sudah terlebih dahulu memotongnya.
“sudahlah.. tidak usah membahas itu. Ngomong-ngomong, kau kenapa datang sepagi ini? Aku tidak pernah melihat yeoja kelas ini yang datang pagi-pagi” ucapannya sambil melihat seisi kelasku.
“emm… aku punya alasan yang tidak bisa kuceritakan. Mianhae” mendengar ucapanku, ia hanya tersenyum simpul. Tidak mungkin ‘kan aku cerita tentang oppaku kemarin? Apalagi ini ada sangkut pautnya dengan namja ini.
“ohh.. gwaenchanayo” ia mengangguk kecil dan entah karena apa mata kami bertemu. Ia seperti menatapku lekat-lekat. Aku membalas tatapannya dengan gugup.
1 detik ..
2 detik ..
3 detik ..
Keheningan pagi terasa semakin menghayat kelas ini. Tatapannya semakin lama semakin menusuk, hingga akhirnya aku dan dia terkekeh karena tingkah kami.
“wajahmu aneh, Hye Rim~a” ia tertawa sambil menunjuk-nunjuk wajahku.
“Yakk !! apa maksudmu ?!!” aku beranjak dari mejaku dan berlari mengejarnya yang sudah kabur itu.

Begitu seterusnya… semakin lama aku semakin dekat dengan namja itu. Belakangan ini ia selalu mengajakku makan siang di kantin dan mengantarku pulang.
Donghae oppa? Dia terlalu sibuk dengan urusan kuliahnya. Walaupun Jang Ahjussi setiap hari menjemputku, tapi aku menyuruhnya untuk kembali kerumah dan bilang kalau ia sudah mengantarku pulang.
Tapi ada satu hal yang membuatku curiga. Belakangan ini Donghae oppa terlihat sedikit pucat. Walaupun kami jarang bertemu belakangan ini tapi raut muka itu terlihat jelas. Tak jarang juga aku melihatnya memegangi kepalanya. Namun pikiran-pikiran tak jelas itu hanya sesekali berkelebat di otakku.
***
Hari ini aku pulang lebih awal karena guru-guruku di sekolah akan mengadakan rapat untuk Ujian Nasional bulan depan. Huhh.. sepertinya aku harus meminta bantuan Donghae oppa untuk memberikan les private padaku -.-“
Setibanya aku dirumah kulihat Donghae oppa yang sedang duduk bersantai sambil menonton televisi. Baru saja aku ingin menghampirinya tiba-tiba ia merintih kesakitan. Dipeganginya kepalanya itu dan ia pun berlari menuju kamarnya. Entah apa yang akan dilakukannya aku tidak tau. Aku mencoba menyusul kekamarnya dan mengintip di celah pintu yang sedikit terbuka.
Ia mencari-cari sesuatu didalam laci meja. Hingga kulihat ia mendapatkan sebuah botol kecil yang berisikan tablet-tablet putih. Apa itu obat? Sebenarnya oppaku ini sedang sakit apa?
Ditenggaknya butiran putih itu sembari meminum air mineral. Tak lama kemudian ia merasa tenang dan menyabet sebuah jaket kulit berwarna hitam di lemarinya. Mengetahui ia akan keluar kamar akupun bersembunyi dibalik tembok dekat kamar itu.
Penasaran? Tentu saja.
Ia mengambil sebuah kunci motor di dekat meja ruang tamu dan bergegas pergi. Aku menghentikan taksi yang melewati depan rumah membuntuti dia sampai di sebuah gedung besar bernuansa putih. Yapp.. itu Rumah Sakit.
Donghae oppa berjalan memasuki sebuah ruangan dalam rumah sakit itu. Ia duduk di sebuah kursi pasien dan tak lama kemudian nampaklah seorang ahjussi berjas putih duduk dihadapan oppaku.
Samar-samar mulai kudengar percakapan oppa dari balik pintu yang tidak tertutup rapat itu.
“obat yang kau berikan padaku waktu itu mulai habis, dok. Apakah kau tidak bisa memberiku obat penghilang rasa sakit lagi?”
“kau tidak bisa meminum obat-obatan itu terus menerus, Donghae~ssi. Obat itu hanya penghilang rasa sakit untuk sementara. Kau harus di kemo sesegera mungkin”
“tapi, dok. Aku tidak bisa membiarkan adikku curiga dengan penyakitku ini. Jika aku harus mengikuti kemotherapy yang kau bilang itu, berarti aku harus dirawat inap di rumah sakit ini, bukan? Bagaimana jika adikku tau tentang penyakit yang kuderita selama ini?”
“Donghae~ssi. Cepat atau lambat adikmu itu pasti akan mengetahui semua ini. Kau tentu ingin sembuh ‘kan? Kau harus bicara dengan adikmu dan mulai melakukan terapi”
“Andwae. Aku akan bertahan demi adikku. Dan, aku tidak akan mau mengikuti terapi bodoh itu”
“lalu kau mau apa sekarang?”
“aku mohon. Berikan aku resep obat penghilang rasa sakit itu. Aku akan baik-baik saja sampai orang tua kami pulang dari Amerika”
“ck. Baiklah kalau begitu. aku tidak bisa memaksamu untuk mengikuti kemotherapy. Akan kutuliskan resep obat itu. Tapi, jika terjadi apa-apa denganmu jangan salahkan aku”
“Kamsahamnida. Tenang saja, dok. Aku akan tetap hidup untuk menjaga adikku”

Apa yang kudengar ini? Kenapa dia harus di Kemo ?? Apa jangan-jangan Donghae oppa sakit - ..
***
Aku menangis sejadinya di dalam kamarku sendiri. Semenjak mendengar bahwa Donghae oppa menderita penyakit serius, air mata ini seakan tidak ada habisnya.
Sudah hampir malam. Tapi mata ini masih saja menitihkan butiran-butiran kecil air mata. Kenapa Donghae oppa harus menderita penyakit semacam itu.
Tuhan, aku sangat menyayangi Donghae oppa. Seberapapun aku sering membentaknya, tapi jauh didalam hatiku aku sangat amat mencintai oppaku satu-satunya itu. Aku mohon, biarkan dia bertahan hidup. Dia oppa yang selalu ada untukku walaupun aku tidak pernah menginginkannya. Dia oppa yang selalu menjagaku walaupun aku mencaci maki dirinya.

KREEKK …
Pintu kamarku ada yang membuka tiba-tiba. Terkejut, akupun menghapus air mataku kasar.
Donghae oppa menghampiriku dan sedetik kemudian mengerutkan keningnya, “kau baik-baik saja? Matamu kenapa sembab begini?”
Tak kujawab pertanyaan itu. Suaranya yang terdengar tegar seakan tidak terjadi apa-apa membuatku kembali menangis sesegukan.
Ia mengulurkan tangannya dan mengusap pipiku lembut, “kenapa kau menangis? Apa sesuatu terjadi padamu?”
Aku menatapnya sendu,”oppa..” suaraku bergetar.
“ada apa Hye Rim~a? katakan padaku” ia mengguncangkan bahuku. Tangisku kembali pecah.
Kupeluk badannya yang kekar itu, “hikss.. gwaenchana oppa. Aku tidak apa-apa”
“ahh?? Benarkah? Menangis sesegukan begitu kau bilang tidak apa-apa?”
“hhehe… aku hanya rindu padamu oppa. Belakangan ini ‘kan kita jarang mengobrol ataupun bertemu” aku mencoba tidak menangis lagi. Setidaknya aku harus berusaha membuatnya tidak terbebani karena aku mengetahui penyakitnya.
“ohh.. mianhae Hye Rim~a. itu karena aku sibuk dengan urusan kuliahku jadinya aku jarang memerhatikanmu lagi. Tapi mulai detik ini aku akan menjagamu seperti biasanya. Jangan harap kau bisa lepas dariku” ia mengelus rambutku lembut. Akupun melepaskan pelukan dan menatapnya dengan senyuman yang sedikit ‘dipaksakan’
“kau janji?” aku mengacungkan jari kelingkingku dan ia membalasnya dengan mengaitkan jari kelingkingnya.
“Ne. Aku janji”
***
“Hye Rim~a” suara itu membuat darahku berdesir.
Aku membalikkan badanku, “ohh? Kyu oppa. Ada apa?”
“belakangan ini aku jarang melihatmu sepulang sekolah. Kau pulang bersama siapa?” aku tersentak. Jelas saja, mulai saat itu aku selalu diantar dan dijemput Donghae oppa. Hampir setiap hari aku selalu menghabiskan waktu dengannya. Menonton film, bermain game, bahkan jalan-jalan ke tempat-tempat yang indah. Aku ingin selalu bersamanya.
“engg.. aku.. aku dijemput oppaku” aku menjawabnya gelagapan.
Ia memiringkan kepalanya, ragu akan jawaban yang kuberikan. “benarkah? Aku juga tidak pernah melihatmu di luar kelas. Sebenarnya ada apa?”
“ck.. sudahlah. Kau tidak perlu tau !” aku berdecak kesal lalu meninggalkannya pergi. Maafkan aku Kyuhyun oppa. Jeongmal mianhae. Aku harus menjaga Donghae oppa. Aku tidak bisa berada didekatmu lagi.

Sepulang sekolah…
“ahh.. oppa” aku melambaikan tanganku kearah namja yang sedang mengemudikan mobilnya. Donghae oppa tau kalau keadaanya bisa drop kapan saja. Jadi ia berhenti mengendarai motor. Walaupun ia beranggapan kalau sejak dulu ia memang ingin membeli mobil dengan uangnya sendiri. Tapi sayangnya, aku tau kenyataan yang sebenarnya tejadi.
Mobil itu berhenti didepanku. Sesaat kemudian aku membuka handle pintunya dan duduk di kursi penumpang.
“sudah lama?” ia menatapku sembari tersenyum. Aku hanya menggeleng singkat.
“kita akan langsung pulang?” aku menoleh kearahnya.
“sebaiknya begitu. Kurasa aku tidak enak badan hari ini” ia menghela nafas panjang. Seketika aku mengernyit dan menatapnya curiga.
“arkkhh.. kepalaku !!” ia berteriak sembari menekan kepalanya.
Akupun panik “oppa? Gwaenchanayo?? Ka-kau pindah ke belakang. Biar aku yang menyetir” ia mengangguk lalu pindah ke kursi penumpang.
“Tapi, kau ‘kan?” ia memandangku meneliti. Heran kenapa aku meminta untuk menyetir.
“Tenang saja. Aku bisa menyetir mobil dengan baik. Sekarang kita ke rumah sakit ya?” mataku mulai basah. Panik ! panik !
Ia menggelengkan kepalanya “andwae. Kita pulang saja”
Aku menatapnya kesal. Kenapa sih dia tidak mau diobati ?! “kenapa?! Bukankah lebih baik kita ke rumah sakit?!” suaraku meninggi. Aku benar-benar emosi dibuatnya.
“jangan. Aku tidak perlu ke rumah sakit. Barangkali aku hanya kelelahan dan perlu istirahat” apa? kelelahan? Bahkan dia sudah jarang masuk kuliah belakangan ini ! lalu kelelahan apa lagi itu ?!

“mworago?! Kelelahan apa maksudmu ?!! kelelahan karena kau menahan penyakitmu itu ?!! kelelahan memikirkan kau harus di kemo atau tidak ?!! kelelahan mencari akal agar aku tidak mengetahui penderitaanmu ?!!! begitukah ?!!!” aku mulai bersikap sarkastik. “Sudahlah oppa ! aku tahu ! aku mengetahui semua !! aku mengetahui kau menderita kanker, yang entah apa namanya aku tidak mau tau ! aku melihatmu menenggak obat-obat penghilang rasa sakit itu ! aku mendengar semua pembicaraanmu dengan dokter !!” tangisku pecah.
Tatapanku berubah menjadi seduktif padanya,”kau mau menyembunyikan apalagi dariku, oppa?” aku mendengus kesal.
“Hye Rim~a.. aku-“ kulihat matanya sudah memerah. Ia menatapku sendu.
“cukup ! aku tidak mau mendengar alasanmu lagi. Sekarang juga kita pergi ke dokter ! aku tidak bisa diam-diam melihatmu menahan penderitaan seperti itu”
Aku mulai menyetir mobil, tangisku masih terisak. Mungkin kalian bertanya bagaimana aku bisa menyetir mobil sementara Donghae oppa selalu overprotektif padaku. Ya, selama ini diam-diam aku meminta bantuan teman sekelasku yang bernama Jinki. Setiap hari minggu aku membuat alasan kalau aku akan mengerjakan tugas kelompok. Disanalah Jinki mulai mengajariku cara menyetir mobil. Sampai saat ini, usahaku tidak sia-sia. Aku bisa mengendarai mobil dengan baik.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di rumah sakit. Aku membopongnya menuju ruang UGD dan dokterpun datang didampingi suster-susternya. Dokter itu, dokter yang aku lihat bersama oppaku beberapa hari yang lalu.
Ahjussi itu mulai memeriksa keadaan Donghae oppa. Sedetik kemudian aku melihatnya berdecak dan menggelengkan kepalanya.
“bawa ia ke ruang perawatan. Kita harus cepat bertindak” ucap dokter itu diterima angggukan 2 suster yang mendampinginya.
Akupun menghampiri, “bagaimana keadaannya, dok? Kenapa ia harus dirawat disini?” aku kembali panic. Tanganku mengguncangkan lengan dokter itu.
“apakah kau yang bernama Lee Hye Rim? Yeodongsaeng Lee Donghae~ssi?” aku mengangguk kuat. “ikut aku keruanganku” ujarnya.
***
“Marhaebwa. Apa yang terjadi pada oppaku?” dokter itu memalingkan wajahnya. Mataku sudah memerah. Tubuhku bergetar.
Ia menghela nafas panjang, lalu berkata “Oppamu mengidap penyakit kanker otak stadium akhir. Beberapa hari yang lalu, aku sudah berusaha membujuknya untuk mengikuti terapi. Tapi ia bersikeras menolaknya. Ia berasumsi bahwa ia akan tetap hidup untuk menjaga adiknya. Hidupnya sangat terbatas.  Sewaktu-waktu ia bisa pergi kapan saja. Jika sekarang mengikuti kemotherapy pun tidak akan ada gunanya, karena sel-sel kanker itu sudah hampir menguasai seluruh jaringan otaknya”
Dadaku sesak. Air mataku membanjiri wajahku. Hatiku serasa dihantam benda keras. Aku mengutuk telingaku yang mendengar langsung semuanya.
Oh Tuhan.. apa yang harus kulakukan sekarang?
Aku keluar dari ruangan dokter itu. Dokter yang memvonis kematian Donghae oppa. Kematian ?? cshh .. kenapa dia bisa bicara seperti itu tentang oppaku. Apakah dia Tuhan yang bisa mengetahui segalanya?! Apakah dia yang mengendalikan hidup Donghae oppa ?! aku terkekeh dalam hati. Donghae oppa. Dia tidak akan mati. Ia sudah berjanji akan selalu berada disampingku, menjagaku sampai akhir hayatnya. Dia akan bertahan demi aku. Ya, demi aku.

Tak jauh dari tempatku berdiri nampak sebuah ruangan putih yang pintunya sedikit terbuka. Aku melangkahkan kakiku memasuki ruangan itu. Kudorong knop pintunya perlahan. Seorang namja terkulai lemas diatas ranjang ruangan itu. Ia masih sadar walaupun matanya seakan terpejam. Aku berjalan gontai menghampirinya dan menarik sebuah kursi lalu duduk disebelah ranjangnya. Ia melihatku sambil tersenyum, “jangan menangis lagi” ujarnya.
“oppa..” suaraku lirih. Ia mengulurkan tangannya dan membelai wajahku, “lihatlah, wajahmu tak akan cantik lagi jika air matamu terus mengalir”
Aku menggenggam tangannya kuat, kupejamkan mataku. Tidak ingin ia pergi dariku.
“mianhaeyo, Hye Rim~a. Aku tidak bermaksud menyembunyikan penderitaanku selama ini. Aku hanya ingin melihatmu hidup tenang tanpa bayang-bayang diriku. Maaf jika aku selalu bersikap overprotektif padamu. Aku tidak ingin kau terluka walau hanya tergores” ia mengelus rambutku.
Aku menatapnya, “Eomma dan Appa. Mereka tau??” ia menggeleng dan melepaskan genggamanku. “mereka tidak. Aku tidak pernah memberitau apapun kepada mereka” ia mendongak menatap langit-langit ruangan ini.
“jadi, selama ini kau menderita seorang diri? Waeyo?” ia menghembuskan nafas berat, tak menggubris pertanyaanku.
“aku baik-baik saja Hye Rim~a. Tenanglah. Bahkan sekarangpun aku bisa berlari” ia menyunggingkan senyumnya dan menatapku. “baru beberapa jam saja aku sudah bosan berada diruangan ini. Aku ingin ke atap gedung, kau mau ikut?” lanjutnya. Seutas senyuman terukir di sudut bibirku, aku mengangguk mengiyakan.

Hari hampir gelap, beberapa menit lagi matahari akan tenggelam. Kami duduk di tepi gedung ini sambil memandangi langit Kota Seoul. Ia menyenderkan kepalanya dibahuku.
“Hye Rim~a” ucapnya. “hmm?” aku bergumam
“apa kau tidak lelah? Dari tadi kau menemaniku terus. Apakah kau bosan?” ujarnya. “aniyo.. aku senang berada disisimu, oppa” jawabku.
“mworago? Kau tidak lelah. Tapi aku sangat lelah. Badanku terasa berat sekali” aku mendelik kearahnya, “apa maksudmu?” aku mulai merasa tidak nyaman dengan kata-katanya.
“Lee Hye Rim. Setauku kau adalah yeoja yang kuat. Kenapa menangis terus? Memangnya kau mau diejek cengeng? Jika seperti ini terus, aku sebagai oppamu akan merasa sangat malu” air mataku mengalir dari pelupuk mataku untuk yang kesekian kalinya.
“aku tidak mau mempunyai dongsaeng yang lemah sepertimu. Bagaimana jika tidak ada namja yang mau denganmu?” lanjutnya. Aku semakin terisak. “arasseo, oppa” suaraku bergetar.
“Hye Rim, siapa nama oppamu satu-satunya ini?” suaranya semakin lemah. Akupun menjawabnya dengan lirih, “Lee ..Donghae.. Oppaku adalah Lee Donghae” ia tersenyum puas mendengarnya.
“hey.. matahari akan segera tenggelam. Ayo kita hitung mundur” ucapnya seraya menunjuk matahari. “aku akan hitung mundur dari sepuluh sampai enam, sisanya kau yang lanjutkan ya..” aku hanya mengangguk ringan.
Dia pun mulai menghitung, “10, 9, 8, 7, 6. Ayo lanjutkan ..”sungutnya dengan nada serak.
“5, 4, 3, 2, 1. Indah sekali oppa” aku pun tak luput memandangi panorama itu.
Hingga kepala Donghae oppa semakin terasa berat bersandar di bahuku. Aku meliriknya, “oppa?” panggilku. Tak ada respon darinya. Tubuhnya kini jatuh di pangkuanku. Kuguncangkan badannya dengan kasar. Kaku. Dingin. Akupun mulai panik. Kuraih tangan kanannya dan menekan urat nadinya. Berhenti. Tak ada denyut jantung disana. Aku meletakkan telunjukku dibawah hidungnya. Tak ada hembusan nafas disana.
“OPPA !!!”
***
-Author POV-
“Hye Rim~a. Hari ini abu kremasi oppamu sudah bisa diambil di rumah sakit. Kau mau mengambilnya?” ujar seorang namja pada yeoja yang tengah duduk di sudut ruangan sembari menatap keluar jendela. Matanya memang memandangi pemandangan di luar, tapi pikirannya kosong.
Namja tinggi bernama Kyuhyun hanya menatap yeoja itu kasihan. “Hye Rim. Oppamu tidak akan bisa tenang di alam sana jika kau seperti ini terus” lanjut Kyuhyun. Sunyi. Yeoja itu hanya diam membisu. Seakan dunia hanya miliknya seorang.
“kalau begitu aku yang akan mengambilnya. Besok kita ke pantai bersama-sama, ne?” Kyuhyun seperti namja yang tidak waras. Berbicara sendiri tanpa ada yang mempedulikan. Tanpa disadari, yeoja itu bergumam, “arasseo”.

Kyuhyun pun mengendarai mobilnya menuju rumah sakit tempat Donghae di kremasi. Sementara itu Hye Rim tetap pada posisinya. Memandang hampa di sudut ruangan. Dengan mata yang sudah membengkak dan merah. Wajah yang lembab. Baju yang basah akan air mata yang mengalir tiada hentinya. Baginya, Donghae adalah satu-satunya orang yang mengerti dirinya melebihi orangtuanya sendiri.
Terdengar suara telepon rumahnya yang memecah kesunyian. Ia tak sedikitpun beranjak dari tempatnya. Berulang kali telepon itu berdering hingga membuat Hye Rim luluh dan menghampiri letak telepon itu di ruangan tengah. Diangkatnya gagang telepon itu, lalu terdengar suara berat dari seberang sana, “apakah ini benar kediaman tuan Lee Sungmin dan nyonya Oh Yoon Mi?”
“Ne. ada apa?” Hye Rim hanya menjawab singkat.
“beberapa jam yang lalu, terjadi kecelakaan pesawat dari Amerika dengan tujuan Korea Selatan. Nama orang yang saya sebutkan tadi adalah 2 dari puluhan korban tewas dalam kecelakaan tersebut. Apa anda anggota keluarganya??” jelas orang itu dari kejauhan.
Gagang telepon yang dipegangnya terjatuh hingga menggantung. Ia terduduk lemas. Tak ayal lagi-lagi butiran-butiran air mata membentuk sungai kecil di pipi mulusnya itu. Hye Rim diam bagaikan patung. Nafasnya benar-benar tercekat. Tangannya memeluk lutut dan menenggelamkan kepalanya disana. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Yang ada hanya isakan tangis yang mengisi setiap sudut rumah itu.

Tak selang beberapa lama, Kyuhyun pun kembali dengan membawa bungkusan kain putih. Hendak memasuki rumah itu, suara tangisan lagi-lagi terdengar di gendang telinganya. Tanpa berpikir panjang, ia sudah mengenali isakan itu. Ia mengedarkan pandangannya ke seisi rumah itu. Matanya berhenti pada seorang yeoja yang tengah duduk meringkuk di dekat meja telepon. Pandangannya beralih pada gagang telepon yang masih menggantung. ‘ada apa ini?’ pekiknya dalam hati.
Ia menghampiri Hye Rim dan memegang pundaknya, “ada apa lagi? Apa sesuatu telah terjadi?” Tanya Kyuhyun. Tetap sama. Tak ada jawaban. Kyuhyun hanya merasakan pundak yeoja itu bergetar.
“aku mohon. Jangan seperti ini, Hye Rim~a” ujar Kyuhyun. Yeoja itu mendongakkan kepalanya menatap Kyuhyun dengan kelopak mata yang sudah menghitam.
“marhaebwa. Bicaralah padaku” kyuhyun mengguncangkan bahu Hye Rim. Namun Hye Rim segera mengalihkan tatapannya.
Kyuhyun mencoba mencari tau apa yang terjadi, dilihatnya gagang telepon itu dan segera mendekatkannya ke telinga. Suara berat seorang ahjussi pun masih terdengar, “halo? Apa anda masih disana? Kalau anda memang kerabat dekat tuan Lee Sungmin dan nyonya Oh Yoon Mi, anda bisa melihat jenazahnya di Rumah Sakit Pusat Seoul” ucap ahjussi itu dari seberang sana.
Sama seperti Hye Rim, Kyuhyun pun tersentak mendengarnya. Diputuskannya sambungan telepon itu. ‘Oh Tuhan.. betapa berat cobaan yang kau berikan pada gadis ini. Hentikanlah penderitaanya’ doa Kyuhyun dalam hati. Tangannya bergerak memeluk Hye Rim dan membenamkan kepala yeoja itu pada dadanya. Dapat dirasakan bagaimana guncangan hati Hye Rim saat ini.
***
Hye Rim menaburkan abu kremasi orangtuanya dan oppanya. Air matanya sudah mengering. Ia tidak bisa menangis lagi. Tiga orang yang ia sayangi pergi begitu saja meninggalkannya sendirian hidup di dunia ini. Kyuhyun merangkul yeoja itu sembari menepuk pelan bahunya. “mereka akan tenang disana” kyuhyun mencoba menenangkan. Tetapi tetap saja, hingga saat ini Hye Rim enggan berbicara dengan siapapun. Bahkan ia menghentikan kegiatan sekolahnya hanya untuk mengurung diri di rumah.
Kyuhyun yang tidak tega membiarkan yeoja yang diam-diam ia cintai ini hidup sebatangkara, ia meminta izin pada orang tuanya untuk menemani Hye Rim hingga keadaanya kembali seperti semula. Walau awalnya orang tuanya menentang, tetapi akhirnya mereka pun menyetujuinya dengan dasar kasihan.
Hampir 2 minggu sudah Kyuhyun tinggal satu atap dengan Hye Rim. Namun yeoja itu tak pernah menganggap kehadirannya. Kyuhyun mencoba mengajaknya berbicara dan bercanda, keadaan tidak berubah, Hye Rim tetap tidak merespon bahkan tak mengeluarkan sepatah katapun.
Keadaan itu tidak mengurungkan niat Kyuhyun untuk menghiburnya. Tak jarang Kyuhyun memasakkan makanan untuk Hye Rim, walau pada akhirnya yeoja itu membanting nampan yang dibawa Kyuhyun dan pergi meninggalkannya.
Namja itu tetap tegar. Ia tidak merasa kesal sedikitpun. Hingga pada suatu hari sebuah ide terbesit di pikirannya. Ia membuka pintu kamar Hye Rim yang sedang duduk melamun di atas ranjang.
“Hye Rim~a. kita jalan-jalan yuk?” ajak Kyuhyun. Yeoja itu hanya diam saja dan mengalihkan pandangannya. “ohh.. ayolah Hye Rim. Kita bisa bersenang-senang hari ini” Kyuhyun menggenggam tangan Hye Rim, dan segera ditepis oleh yeoja itu sendiri. “sudahlah jangan mengelak’ dengan sedikit paksaan akhirnya Hye Rim mengikuti Kyuhyun.
***
“kau mau membeli sesuatu?” Tanya Kyuhyun saat mereka sedang di Taman Hiburan. Kyuhyun sengaja mengajak Hye Rim ketempat ini hanya sekedar bermain-main, ia yakin sedikit demi sedikit Hye Rim bisa melupakan kejadian-kejadian yang mengguncang hati yeoja itu.
Kyuhyun dan Hye Rim berjalan-jalan mengelilingi seisi tempat itu. Wajah suram Hye Rim pun perlahan berubah walaupun senyuman masih belum menghiasinya. “kau suka permen kapas? Mau aku belikan?” Kyuhyun bertanya untuk yang kesekian kalinya. Hye Rim tetap enggan mengeluarkan suara. “ahjussi, aku beli ini satu ya” ujar Kyuhyun pada penjual permen kapas itu.
Mereka lalu duduk di sebuah bangku kayu yang menghadap ke danau. “ayo makan ini. Sangat manis sama seperti wajahmu jika tersenyum” goda Kyuhyun ingin menyuapi permen kapas itu ke mulut Hye Rim. Yeoja itu mengalihkan pandangannya. Kyuhyun tetap memaksa. Akhirnya walau sedikit ragu, Hye Rim membuka mulutnya dan memakan permen kapas itu. Sebuah senyuman pun terukir di kedua sudut bibir Hye Rim. Senyuman pertama semenjak Hye Rim kehilangan keluarganya. “akhirnya aku bisa membuatmu tersenyum” kata Kyuhyun. Hye Rim hanya menunduk menyembunyikan semburat merah dipipinya.
Kyuhyun kembali mengajak Hye Rim jalan-jalan. Ia berhenti di sebuah stand asesoris. “lihatlah” ucap Kyuhyun sembari memakai telinga kelinci buatan di kepalanya. Tak disangka, Hye Rim tertawa ringan melihat tingkah laku namja itu. Kyuhyun pun semakin semangat menghibur hati Hye Rim. Pandangannya beralih pada sebuah gantungan kunci yang bergambar monyet, “bukankah itu lucu?” Kyuhyun menunjuk gantungan itu pada Hye Rim. Yeoja itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Sepatah katapun belum juga keluar dari mulut Hye Rim. Ia bagai orang bisu sejak dilahirkan ke dunia.
“ahjumma, aku beli gantungan kunci ini dua” ujar Kyuhyun sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. “untukmu satu, dan satunya lagi untukku” Kyuhyun memberikan satu gantungan kunci yang baru saja dibelinya. Senyuman Hye Rim semakin mengembang.
Perjalanan mereka dilanjutkan lagi. Beban yang dirasakan Hye Rim perlahan-lahan sirna oleh namja ini. Kyuhyun mampu merubah keterpurukan menjadi kegembiraan meskipun Hye Rim masih enggan berbicara.
Kini mereka berhenti di sebuah toko kecil yang menjual berbagai macam tas dan sepatu. Kyuhyun mengajak Hye Rim masuk dan melihat-lihat sesuatu. “tas ini cocok untukmu. Aku belikan ya” kata Kyuhyun memperlihatkan tas gandeng berwarna silver yang berhiaskan mutiara kecil di setiap sudutnya. Hye Rim menggeleng pada awalnya, namun Kyuhyun tidak mempedulikan dan beranjak menuju kasir toko tersebut.
Setelah membayarnya, Kyuhyun memberikan tas itu untuk dipakai Hye Rim.”oh iya.. mana gantungan kunci yang kuberikan tadi?” Tanya Kyuhyun. Hye Rim pun merogoh sesuatu dalam saku celananya dan memberikannya pada Kyuhyun. Namja itu berjongkok kemudian mengaitkan gantungan kunci itu pada salah satu resleting tas tadi. “bagus kan? Punyaku akan kupasang di kunci mobilku” ujar Kyuhyun. Hye Rim kembali menyunggingkan senyumnya sambil melihat tas barunya itu.
Beberapa menit kemudian mereka keluar dari toko kecil itu. Jalanan kota Seoul saat itu sedang padat dengan kendaraan, lautan manusia juga tumpah ruah di setiap sudut kota itu. Ditambah lagi dengan temperature udara yang panas walaupun jam sudah menunjukkan pukul 06.30 sore.
Mobil Kyuhyun terparkir di seberang jalan. Merekapun menuju ke penyebrangan jalan. Entah karena hari itu adalah hari Minggu atau mungkin ada yang mengadakan acara di hari dan jam yang sama. Jalanan benar-benar ramai akan kendaraan dan pejalan kaki.
Hye Rim dan Kyuhyun terpaksa menyebrang dengan berdesak-desakan dengan penyebrang lain. Tak sedikit dari mereka yang menggerutu karena tertabrak penyebrang yang berlawanan arah. Setelah sampai di seberang jalan, Hye Rim menyadari bahwa gantungan kunci yang diberikan Kyuhyun tadi terjatuh saat berdesakan. Yeoja itu menarik lengan Kyuhyun,”ada apa?” Tanya Kyuhyun. Hye Rim menunjuk ke resleting tasnya itu. “apa gantungan kunci itu terjatuh?” Tanya Kyuhyun lagi. Hye Rim mengangguk dan melihat ke arah zebra cross tadi. Ia lalu mengisyaratkan agar Kyuhyun menunggunya disini dan ia akan mengambil gantungan kunci itu. “jangan. Sebaiknya kau yang tunggu disini. Aku akan mengambilnya” ucap Kyuhyun.
Dilihatnya lampu tanda bagi penyebrang jalan masih hijau. Ia pun segera berlari ke tengah jalan dan menggamit gantungan kunci itu. Sedetik kemudian, lampu penyebrang jalan itu berubah menjadi merah. Kendaraan yang semula berhenti kini melaju kencang. Kyuhyun yang menyadari dirinya dalam bahaya lalu berusaha lari ke pinggir jalan. Namun sudah terlambat baginya. Sebuah mobil melesat menghantam tubuhnya hingga terpental ke trotoar jalan.
“OPPA !!!” teriak Hye Rim. Satu kata yang akhirnya keluar dari mulut yeoja itu. Orang-orang yang berada disekitar mengerumuni Kyuhyun. Hye Rim pun berlari kearah kerumunan itu dan mendapati darah segar mengalir di sekujur tubuh Kyuhyun. Diletakkannya kepala namja itu pada lengannya. “siapa saja. Tolong hubungi ambulance ! cepaatt !!” ucap Hye Rim pada orang-orang yang mengerumuninya itu. “oppa, bertahanlah. Aku mohon” Hye Rim panik. Kyuhyun pun membuka matanya perlahan walau dihalangi aliran darah dari kepalanya. “akhirnya aku bisa mendengar suaramu lagi, Hye Rim~a” suara Kyuhyun lemah. Ia membuka telapak tangan kanannya dan memberikan gantungan kunci yang sudah berlumuran darah pada Hye Rim. Seketika mata Kyuhyun kembali terpejam dan tubuhnya menjadi lebih berat. “ANDWAE !! OPPA !!”
***
Hye Rim kembali berdiri di pesisir pantai itu lagi. Pantai tempat ia menabur abu kremasi orang tua dan oppanya. Kini ia harus melakukannya lagi. Ia membuka bungkusan kain putih dan menggenggam butiran-butiran seperti debu. Ia menebarkannya ke ombak pantai itu. Hatinya lagi-lagi terguncang.
Lengkap sudah. Appa, Eomma, Donghae oppa, bahkan Kyuhyun. Semuanya telah pergi. Air matanya kembali mengalir dari sudut matanya. Ingin rasanya ia menyusul orang-orang itu.
Dengan tingkat kesadaran yang masih tinggi, ia melangkahkan kakinya semakin dalam ke pantai itu. Deburan ombak sudah mencapai lututnya tapi ia tetap memandang lurus kedepan. Kenangan-kenangan bersama keluarganya dan Kyuhyun melayang-layang dipikirannya.
Air laut kini mencapai lehernya. Badan Hye Rim terhuyung bersama gelombang laut. Tak banyak yang ia pikirkan. “tunggulah aku disana. Aku segera menyusul” gumamnya. Hye Rim memejamkan matanya dan membiarkan air laut menenggelamkan dirinya. Entah kemana ombak akan membawa tubuhnya. Yang pasti, hanya satu tujuannya saat ini, Surga.
--THE END--

gomawo for read ^^ leave a coment, please?? Kalian pasti ngerti kalo udah susah-susah buat ff, tapi gak di koment?? Rasanya gimana?? Hhehe .. kasi komen yaa.. jeball .. kritikan juga gapapa ^^ yayaya?? *tariktariklenganreaders .. jeballl .. yayaya?? #oke cukup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar