Author : Sungrinssssss
Cast :
Kwon Jiyong, Jung Haera, Kim Soo Hyun
Genre : romance, fantasy
***
Tuhan telah menciptakan manusia untuk hidup berdampingan.
Tak akan ada yang bisa mengelak dari takdir yang telah ditentukan
Beliau.
Dengan alasan tertentu, manusia diciptakan sedemikian rupa, agar dapat
saling melengkapi kekurangan mereka masing-masing.
Walaupun pada kenyataannya 2 manusia yang telah ditakdirkan bersama,
mengelak dan tidak ingin menjalani hidup sebagai sepasang. Maka Tuhan lah yang
akan menurunkan seorang malaikat untuk mempersatukan 2 manusia tersebut,
meskipun dengan jalan yang tidak masuk akal dan sulit diterima logika.
***
-Jung Hae Ra’s POV-
“Cukup tuan Kwon, kami sudah memilih
proposal nona Jung sebagai project selanjutnya, silakan anda keluar dari
ruangan ini”
“tapi aku bisa membuktikan project
milikku yang akan sukses besar, percayalah”
“ kau tak ingin aku memanggil security
untuk mengusirmu kan?”
Kalimat terakhir membuatku mengukir
sebuah senyum kemenangan diwajahku.Dengan mengangkat dagu keatas, berlagak
–sedikit- sombong dihadapannya.Tuan Kwon yang –katanya- manager kesayangan
presdir.Tuan Kwon?Cih ..bahkan otakku tak sudi untuk memikirkan nama itu.tapi
maaf, sepertinya gelar kesayangan itu akan
beralih pada namaku.
“baiklah, aku permisi” katanya sembari
membungkuk lalu menatapku tajam. Aku mendelik “kau lihat apa? Cepat keluar”
ucapku sarkastik.Rasanya dunia ini hampir menjadi milikku.Yaa aku hanya tinggal
menyelesaikan project ini agar menjadi pagelaran musical yang sukses hingga ke
kancah internasional.Dengan begitu, barangkali aku bisa dipromosikan.
“silakan duduk nona Jung Hae Ra, mari
kita bicarakan mengenai project drama musical kita” presdir Choi mempersilakanku
duduk dan mulai membahas apa saja yang harus disiapkan. Aku tersenyum
sumringah, malam ini aku harus merayakannya.
***
“haha … baiklah oppa. Hari ini
kutraktir kau makan di restaurant bintang lima. Bagaimana? Hahahha”
“aku tagih janjimu Hae Ra~ya. Ku jemput kau di kantormu. Kau tidak akan
kabur kan? Hahaha”
“tenang oppa, kapan seorang Jung Hae
Ra melanggar janjinya? Haha ..sudah dulu oppa. Bye”
Pliipp ~ kukunci layar ponselku
setelah mengakhiri sambungan telfon dari Kim Soo Hyun, sahabatku sejak
SMA.Sahabat? Ohh baiklah, aku menyukainya sejak ia menjadi sahabatku. Bukan …
bukan suka.Tapi cinta.
“hey kau !” Belum tuntas khayalanku tentang Soo
Hyun oppa, sebuah suara mendengung di telingaku. Membuatku menoleh dan memasang
tampang bak tuan putri. “ada apa manager Kwon? Ada perlu denganku?Hmm ..tapi
sepertinya aku sedang sibuk. Sampai jumpa” kataku mempersingkat waktu
dengannya, hendak berbalik namun tangannya mencengkram lenganku kuat.
“hyaa.. apa yang kau lakukan?!”
pekikku setengah berteriak. Tapi tangannya malah semakin kencang di lenganku. Ohh ..aku baru ingat dia seorang
laki-laki.
“apakah kau tau sopan santun, nona
Jung? Aku sedang ingin bicara denganmu” ucapnya tepat di depan telingaku.
Seketika bulu kuduk dibelakang leherku berdiri.Dia seperti vampire.Menakutkan.
“lepaskan lalu cepat bicara. Aku
benar-benar sibuk” kini ia melepaskannya. Berkacak pinggang lalu menatapku dari
ujung kaki hingga ke ujung rambut.Aku hanya meringis sambil mengelus lengan
kananku yang sedikit membiru.
“kubilang cepat bicara !” ia sedikit
mundur dan mengejapkan matanya mendengar teriakanku. Aku sedang berada di
halaman belakang kantor, jadi tak akan ada orang yang mendengar.
“Jung Hae Ra~ssi, bukankah kau belum
genap satu bulan bekerja di agency drama musical ini?”
“lalu? Masalahnya denganmu apa?!”
“Kau !” ia berjalan mendekatiku,
membuat punggungku menabrak sebuah pohon dan mengunciku dengan kedua tangannya.
Sial. “jangan terlalu berharap kau bisa menggeser posisiku sebagai manager
perencanaan utama, kau hanya ketua tim kreatif, butuh waktu beberapa tahun
untuk mengambil alih pekerjaanku” kira-kira hanya 5 centi jarak wajahku
dengannya. Deru nafas beraroma mint menyapu permukaan kulit wajahku.
“kau pikir kau siapa? Bisa saja besok
presdir Choi langsung mengumumkan bahwa Jung Hae Ra, ketua tim kreatif
dinaikkan jabatannya menjadi manager perencanaan menggantikan posisi Kwon
Jiyong” lagi-lagi aku mengangkat dagu, menunjukkan victory glare yang
belakangan ini menjadi andalanku.Dengan cepat kuinjak kakinya dengan sepatu
high heels yang kukenakan lalu kabur meninggalkannya yang tengah meringis
kesakitan.
“Ya ! Jung Hae Ra !tunggu pembalasanku
!” lalalalala ~ dia pikir aku takut
dengan ancaman konyol seperti itu? Sungguh kekanak-kanakan !Bahkan tekadku
sudah bulat untuk menendangmu dari jabatan yang begitu membuatmu seolah
berkuasa di perusahaan itu.
***
Ohh..laki-laki bertubuh proporsional. Alis
tebal serta gaya rambut yang sesuai dengan bentuk wajah. Tatapan matanya yang
teduh sebagai pilar utama di wajahnya yang rupawan.Calon pewaris perusahaan
otomotif ternama di Korea dan Jepang.Relawan hampir di setiap kegiatan bakti
sosial.Bukankah Kim Soo Hyun sangat sempurna untuk menjadi lelaki idaman?Bahkan
aku yakin sosok wanita seperti Kim Tae Hee pun bisa dibuat tergila-gila
olehnya.
“Hae Ra~ya..itu lenganmu. Kenapa lebam
seperti itu?”Soo Hyun oppa membuyarkan lamunanku. Aku baru ingat tentang
cengkraman Jiyong tadi sore membuat lenganku sedikit bengkak. Tapi bersama Soo
Hyun oppa, aku bisa melupakan semuanya (?).Larut begitu saja.Mungkin aku bisa
melupakan siapa namaku dan darimana aku berasal.Konyol.
“ahh.. tadi aku tidak sengaja
menyerempet tembok di kantor, ya jadi seperti ini. Hehe” jawabku cengengesan.Ia
hanya ber –oh- ria sembari melanjutkan makannya. “apa salah tembok itu hingga
kau serempet? Ckckck. Kau dendam padanya? Huahahaha” candanya lalu tak lama kemudian batuk karena
tersedak. Aku menahan tawa melihatnya, ia pun bisa bertindak lebih konyol
dariku. Anggaplah bahwa kekonyolan kami adalah satu tiket untuk mendapat gelar
‘serasi’
“ya oppa ! kau bisa mati tersedak jika
tertawa seperti itu” kusodorkan segelas minuman dan langsung ditegukknya sampai
tetes terakhir. “aku tidak akan menyesal jika wanita cantik sepertimu adalah
orang terakhir yang kulihat saat aku menghembuskan nafas terakhir”
Blush !bagaimana ekspresiku saat ini?
Apa warna semburat yang timbul dipipiku? Seseorang, bisakah kau membawaku
terbang ke surga?
“aishh jinjja ! tapi jika mati
tersedak itu sangat tidak ellite. Setidaknya kau harus mati dengan alasan yang
lebih terhormat tuan Kim !hahaha !” candaku dan beberapa menit kemudian sebuah jitakan mendarat mulus di keningku.Suatu
tradisi baginya. “awww .. neomu apa !”
“kau sangat ingin aku mati? Hah? Lihat
saja..hidupmu tidak akan tenang, Jung Hae Ra ! aku akan selalu menghantuimu !”
Entah mendapat kesadaran dari mana aku
berkata diluar kehendakku “yaa … kalau kau mati, aku pun juga ingin ikut mati
bersamamu oppa” ia hanya terdiam, hening beberapa saat. Namun tak lama ia
membalasnya dengan tawa. Apa ia pikir aku bercanda? Tidak oppa ..aku
bersungguh-sungguh. Oppa !
“kau lucu sekali Hae Ra~ya” tangannya
mengacak – acak puncak kepalaku. Aku hanya tersenyum miris.Nasibmu sungguh
malang, Jung Hae Ra.
Kim Soo Hyun, kapan kau akan menyadari
perasaanku padamu? Butuh berapa lama lagi bagiku untuk menunggumu?Apa aku harus
menulis surat wasiat terlebih dahulu agar kau bisa berhenti menganggapku hanya
sebatas ‘sahabat’
***
Kubanting lemah tubuhku diatas ranjang
sesampainya aku dirumah.Memikirkan kata-kataku saat bersama Soo Hyun tadi.Entahlah,
jika sedang kesal aku tidak berminat memanggilnya dengan embel-embel ‘oppa’.
Yahh walaupun sebenarnya memang tidak perlu karena usia kami hanya terpaut 4
bulan.
Tok tok tok ..
Seseorang mengetuk pintu kamarku dan
tak lama disusul wanita parubaya yang membukanya.Eomma .
“Hae Ra, tadi boss’mu dikantor
menelepon ke rumah, katanya ponselmu tidak aktif” aku bangkit dari ranjang
kemudian mengecheck ponselku di dalam tas. Low Batt !Ceroboh !
“ahh iya eomma, mian aku tidak tau.
Apa dia menitip pesan?” eomma mengangguk, iya berjalan masuk lalu duduk ditepi
ranjang bersamaku. “katanya besok kau harus membawa proposal yang lebih rinci
dan kemungkinan kau akan bekerja lembur. Itu saja yang dia katakan pada eomma”
“proposal yang lebih rinci? Bekerja
lembur?Haruskah? Aishh “ kubaringkan lagi tubuhku. Eomma hanya mengelus kepalaku
pelan sambil tersenyum. “bukankah Jung Hae Ra ingin menjadi wanita yang sukses
dan dihormati? Semua harus dilakukan dengan kerja keras, ayo semangat”
Aku membalas senyumnya yang
hangat.Senyum yang selalu kurindukan jika sedang tidak bersamanya.Walau hanya
beberapa jam.
Hingga sang surya menyingsing dari
ufuk timur ..
Aku memulai hari ini dengan
malas.Tidak ..hampir setiap hari kuawali dengan kemalasan yang menguasai 75%
sarafku. Sisanya hanya untuk bergurau tentang kata ‘semangat’ ‘kau pasti bisa’ dan
‘semuanya akan lancar’.Itu hanya gurauan.Sampah.
90 menit waktu untuk bersiap-siap
kembali ke kantor. Proposal?Hanya perlu menambahkan beberapa kalimat penjelas
dan mengeprint’nya ulang. Apa mungkin ‘proposal lebih rinci’ adalah makna lain dari ‘aku harus kerepotan di tengah malam
hingga pagi hari’ ?
***
Author’s POV
Jung Hae Ra. Wanita lajang yang baru
beberapa minggu menapaki kariernya di bidang entertainment khususnya pagelaran
musical di sebuah perusahaan swasta kawasan Gang Nam district.Lulusan bergelar
S1 Universitas Yonsei jurusan sastra di usianya yang baru saja menginjak 23
tahun.Modal yang cukup untuk membuka jendela dunia yang lebih luas.Menjadi
sukses dan dikagumi serta menjadi panutan banyak wanita di Korea Selatan.
Dengan tubuh langsing, kulit seputih
susu dan kaki jenjang. Ia melangkah dengan sangat percaya diri memasuki gedung
perusahaan itu. Sebuah perusahaan yang menjadi tempat pertama dan satu-satunya
ia bisa mewujudkan tekadnya selama ini. Sebuah map berwarna biru sangat hangat
dalam dekapannya. Walau dalam hatinya ia juga sedikit mendidih dengan
‘kecerewetan’ bossnya.
“jwiseonghamnida agasshi, bisakah aku
menitipkan map ini pada presdir Choi? Gomapta” ucapnya seraya membungkuk pada
sekretaris pribadi presdir. Ia hanya mengangguk seolah mengerti dengan kalimat
singkat Hae Ra beberapa detik yang lalu.
“ku dengar hari ini boss menyuruhmu
bekerja lembur? Begitukah?”Sung Min Ji, karyawan pertama yang menyambut hangat
kedatangannya pagi itu. Hae Ra hanya tersenyum masam, mengisyaratkan kalau ia
sangat ingin berkata ‘bisakah kau membantuku membunuh presdir cerewet itu?’
“jiahaha .. kau tidak akan bekerja
lembur sendirian nanti. Tenang saja” ucap Min Ji diawali tawanya yang khas.Hae
Ra menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti dengan maksud perkataan Min Ji.
“wae? Kau tidak tau?Presdir Choi meminta bantuan manager Kwon untuk
mendampingimu bekerja lembur nanti. Ku kira kau sudah tau akan hal itu”
Bagai tersambar petir di pagi yang
bahkan tak nampak sekumpulan awan hitam.Hae Ra hanya bisa melongo.Lembur?
Manager Kwon? Mendampingi? Rasanya detik
itu juga ia ingin mencekik boss’nya sendiri. Namun ia masih bisa berpikir
rasional dan akal sehat 80% masih menguasai otak besarnya.
Sung Min Ji berlalu meninggalkan Hae
Ra setelah menepuk pelan bahunya.Ia tau betapa buruknya hubungan antara teman
karib dan manager kesayangan presdir itu.
Jam menunjukkan pukul 9 malam. Sudah lewat
dari waktu normal para karyawan perusahaan meninggalkan tempat mereka. Tak
terkecuali sang presdir dengan raut tanpa dosa berkata pada Hae Ra dan Jiyong
untuk segera menyelesaikan tahap pemilihan actor/aktris pemeran. Tentu hal itu
membutuhkan diskusi panjang lebar, terlebih lagi pagelaran tersebut sangat
berarti dalam menunjang karier Hae Ra sendiri.
“kau tinggalkan saja aku sendiri.
Biarkan aku yang lembur. Pulang sana ..“ ucap Hae Ra ketus saat mereka masuk ke
dalam ruang meeting. Hanya mereka berdua di ruangan itu. Ya..mereka berdua.
Jiyong dan Hae Ra.
“kau gila? Setelah sampai dirumah.
Hanya beberapa jam aku dapat tidur pulas dan besok aku pasti dipanggil untuk
menghadap pada presdir kemudian menerima pesangon. Sudah turuti saja
kemauannya.Lagipula aku lebih berpengalaman dalam memilih pemeran. Kau masih
baru, jangan sombong”
Hae
Ra hanya menguap lebar mendengar celotehan panjang Jiyong. Lebih baik
baginya untuk segera bekerja daripada berdebat dengan musuhnya itu. “annyeong..
Nona Jung, Tuan Kwon. Bolehkah saya masuk?” serempak Jiyong dan Hae Ra menoleh
mendengar suara itu.Beberapa detik kemudian seseorang dengan seragam office boy
masuk membawa nampan berisi 2 cangkir kopi diatasnya.
“ahh.. maaf telah mengganggu pekerjaan
kalian. Ini, kubuatkan kopi hangat agar pekerjaan kalian lancar” laki-laki yang
usianya hampir 50 tahun itu sedikit membungkuk setelah meletakkan 2 cangkir
kopi diatas meja. “ahjussi, apakah hanya tinggal kita bertiga yang ada di
kantor?”
Hae Ra merasa bergidik karena harus
lembur, ia cukup percaya dengan hal-hal mistis di lingkungan kantornya ini.
Jiyong menoleh kearah Hae Ra karena bingung dengan pertanyaan itu. “masih ada 2
security di luar, jadi ada 5 orang yang masih tinggal. Memangnya ada apa nona?”
Hae
Ra dengan cepat mengelakkan persepsi pandangan 2 laki-laki didekatnya itu yang seolah
mengejeknya ‘dasar penakut !’ia tetap menjunjung tinggi harga dirinya “eng .. tidak apa-apa. Aku hanya
bertanya.Hehe.Kau boleh pergi sekarang. Terimakasih kopinya”
2
jam sudah waktu berjalan. Meeting mereka habiskan dengan berdebat hebat.Semacam
tak ada yang mau mengalah dengan pendapat yang bukan keluar dari mulut mereka
sendiri.Egois. Seperti itulah cara menggambarkannya.
“terserahlah
!sebenarnya untuk apa presdir Choi menyuruh kita untuk bekerja lembur kalau
hanya digunakkan untuk berdebat tidak karuan ! kita lanjutkan besok di kantor
!” umpat Hae Ra sembari membereskan –atau lebih tepatnya membanting- dokumen
dokumen yang ia bawa. “ya !masih untung aku mau menemanimu ! kalau tidak, bisa
habis kau diruangan ini sendirian !”
“aku
tidak dengar !”
“dasar
wanita tidak tau sopan santun !”
“lalalalala”
“wanita
gila !”
“aku
hanya sendirian di ruangan ini. Lalalala”
Begitu
seterusnya.Sebagainya.Dan lain-lain.Dan lain –lain.
Hingga
emosi Jiyong memuncak karena merasa tidak dianggap.Membuatnya menggebrak meja
dengan keras.Tak dipungkiri kalau Hae Ra pun sampai terlonjak kaget.Namun
beberapa detik setelah aksi Jiyong itu, lampu diruang meeting mati.
Suasana
menjadi gelap gulita. Hae Ra yang notabenenya phobia akan gelap menjadi panik.
“Jiyong !ada apa ini? Kenapa jadi gelap?!Siapa yang mematikan lampunya?!Jiyong
kau dimana?!”
“Ya
!aku disini ! Jangan berteriak seperti itu !” pekik Jiyong sama halnya dengan
Hae Ra, ia berteriak tak kalah nyaring. LOL -__-
Mendengar
suara Jiyong didekatnya, dengan asal ia memeluk lengan Jiyong kuat-kuat. Hae Ra
berpikir ia tak mau mati ketakutan di kantor ini. “a.. apa yang kau lakukan?!
Lepaskan !”Jiyong berusaha melepaskan tangan Hae Ra dari lengannya.Namun gadis
itu memeluknya semakin erat.
“a..
a .. aku takut ! cepat hidupkan lampunya !”
“apa?!
Kau pikir aku yang mematikannya?!”
“ya
kupikir begitu !”
“dasar
gadis tengil ! dari tadi aku bersamamu ! mana mungkin aku pergi mematikan
lampunya !
Mereka
saling berteriak satu sama lain. Bahkan mereka pun tak dapat melihat secercah
cahaya di ruangan itu.Benar-benar gelap, seakan-akan membuat mereka buta dan
hanya bisa berteriak.
Beberapa
menit suasana menjadi hening.Perlahan mereka meraba-raba kursi yang tadi di
duduki dan memilih untuk kembali duduk. Pasrah akan keadaan, menunggu lampu
kembali menyala, serta tetap pada posisi mereka –Hae Ra yang ketakutan menekan
kuat harga dirinya dengan menempel terus pada lengan musuhnya-. Setelah melewati malam ini mungkin ia akan
membersihkan tubuhnya dengan kembang 7 rupa dan bersemedi di bukit Namssan
(#author ngaco -_-v)
***
Kwon Jiyong’s POV
Kubuka
perlahan kelopak mataku.Membiasakan diri dengan cahaya putih yang memaksa
masuk.Samar-samar aku melihat ruangan yang tak asing bagiku. Oh ya..ini kan
kamarku -_-
Ahh
..nyamannya. Aku merasa betapa empuknya ranjangku pagi ini.Dengan manja tubuhku
bergeliat, masih enggan untuk beranjak dan memilih lebih lama untuk melewati
pagi bersama para bantal kesayanganku.Nyawaku belum sepenuhnya terkumpul, namun
aku ingat betul kejadian mati listrik saat aku bekerja lembur kemarin. Jung Hae
Ra, dengan tak tau malunya ia selalu menempel padaku dengan alasan takut. Hah
!itu hanya alasan !
Ku
edarkan pandanganku ke sekeliling kamar dan mendapati sebuah foto berbingkai
yang cukup besar.Di foto itu, ada aku yang memakai tuxedo putih, sangat tampan,
ku akui itu.Dan seorang wanita mengenakan gaun berwarna senada, menggandeng
tanganku sembari membawa sebuket bunga.Yaa ..cantik. Kami berdua tersenyum
bahagia disana.Sungguh serasi.
Semakin
kupicingkan mataku.Foto itu semakin terlihat jelas.Ehh ..tunggu !
Aku
mengenakan tuxedo putih?Seorang wanita yang mengenakan gaun?menggandeng
tanganku sambil membawa buket bunga? Tersenyum bahagia?Serasi?!!!!Mataku
membelalak lebar seketika.
Hyaa
!foto apa itu?! Kenapa Jung Hae Ra menggandeng tanganku?!!Kenapa foto itu
terlihat seperti foto pernikahan?!!
Sesuatu
bergerak diatas tempat tidurku.Aku dapat merasakannya. Dengan takut-takut aku
menoleh kearah samping….. JUNG HAE RA??!!!!!!
Bagai
menabrak tembok China (?), aku terlonjak hingga jatuh dari ranjang. Kulihat ia
perlahan membuka matanya …
KYAAAAAAAAAAAAAAAAA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Jung Hae Ra’s POV
Apa
ini?!! Apa yang terjadi??!!! Kenapa aku bisa satu ranjang dengan Jiyong ?!!!
Dengan
cepat aku mengubah posisiku menjadi duduk.Sekilas kulirik tubuhku yang hanya
mengenakan tank top. Oh Tuhan …. Apa yang terjadi?!!!
“kau
!kenapa bisa disini?! Kenapa kau berada di kamarku ?!ahh ..bahkan kau tidur
satu ranjang denganku !!” Jiyong dengan keras berteriak padaku.Aku pun masi
shock dengan semua ini.Aku hanya bisa mengatur nafas dan mencoba berfikir
keras. “ya kenapa kau diam saja !” teriaknya lagi.
Aku
menatapnya garang, “aku juga tidak tau !kau pikir aku sengaja tidur satu
ranjang denganmu hahh ?! aku bukan wanita jalang !!” pikiranku menjadi kacau.
Kenapa bisa seperti ini?Kenapa aku bisa berada disini?! Tuhan .. kuharap ini
hanya mimpi.
“lalu
apa?! Dan kau hanya … hanya mengenakan tank top?!”
Aku
mendelik, atau jangan-jangan .. “kau juga ?! kenapa hanya memakai celana?!
Kenapa tidak pakai baju?!Kya !apa kau berniat memperkosaku?!” kututupi tubuhku
dengan selimut hingga sebatas leher. Kini wajahnya terlihat pangling.
“a
.. apa?!! Aku ?!memperkosamu?! Ti ..tidak .. Tidak..mana mungkin !” tukasnya
berusaha meyakinkan. “lalu apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?!” kutarik
selimut hingga kini kepalaku ikut tenggelam disana.Jantungku berpacu dengan
cepat.Bagaimana bisa? Bukankah kemarin kami masih berada di kantor? Tapi
sekarang … Tuhan, bangunkan aku dari mimpi buruk ini.
“ya
!kenapa pagi-pagi kalian sudah berteriak-teriak begitu, hmm?” terdengar lembut
suara wanita parubaya yang kurasa berada didekatku. “eomma?” kata Jiyong,
membuatku menyibakkan selimut dan berusaha duduk kembali.
“ada
apa? Ayolah bangun, lalu pergi mandi.Ibu sudah menyiapkan sarapan” wanita itu
tersenyum padaku dan Jiyong.Kami saling menoleh dan mengangkat bahu
bersamaan.Raut wajahnya terlihat kikuk, tak jauh berbeda denganku.Setelah
wanita yang dipanggil ‘eomma’ itu pergi.Jiyong kembali duduk ditepi ranjang.
Ia
menghela nafas berat, dan kemudian sunyi. Kami sibuk dengan pikiran
masing-masing. Mencoba mencerna apa maksud dari semua ini. “dia .. ibumu?”
tanyaku memecah kesunyian. Dia membalasnya dengan anggukan kecil.Lagi-lagi kami
diam. Entah mendapat perintah darimana, serentak kami menunduk.
Beberapa
menit berlalu, ia mendongak dan menoleh padaku, tatapan kami bertemu, “kau
..mandilah. Kamar mandi ada disana.Kau boleh memakai handukku jika kau mau”
suaranya terdengar datar.Pandanganku beralih pada pintu berwarna putih yang
ditunjuknya.Aku mengangguk lalu berjalan ragu dan sesekali menoleh ke
arahnya.Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan, terdengar beberapa kali
suara helaan nafas beratnya.
***
Author’s POV
Wanita
parubaya yang dipanggil eomma oleh Jiyong itu duduk manis di salah satu kursi
yang berhadapan langsung dengan meja makan. Di depannya ada beberapa potong
roti dan nasi goreng buatannya sendiri.Kedua sudut bibirnya tertarik keatas
membentuk sebuah senyuman tatkala putra bungsunya dan Hae Ra menghamipirinya
lalu ikut duduk.
“bagaimana
malam pertama kalian?” tanya ibu Jiyong tanpa basa-basi. Raut wajahnya tak
sabar menanti jawaban dari kedua orang itu.
“uhukk..”
hampir saja Hae Ra menyemburkan air mineral yang baru saja ditenggaknya. “ma ..
malam pertama? Maksud eomma?”Jiyong nampak
bingung dan sekilas menoleh pada Hae Ra yang hanya menautkan kedua alisnya.
“ya
malam pertama. Bukankah hal itu biasa dilakukan sepasang suami istri seusai
pesta pernikahan mereka? Kau ini bagaimana sih”
“apa?!!
Sepasang suami istri?!Kami ?!” pekik Hae Ra tak percaya. Jiyong hanya menganga
lebar dan masih tidak mengerti.
“eomma
tidak bergurau kan? Kita sudah menikah?Kapan? Ini tidak lucu, eomma”
Ibu
Jiyong sedikit terkejut dengan kata-kata Jiyong beberapa detik yang
lalu.Suasana di ruang makan nampak mencengangkan bagi Jiyong dan Hae Ra. Tubuh
mereka menjadi panas ditengah udara musim dingin.
“ya
!kalian ini kenapa sih? Kalian mengigau ya?Baru satu hari menjadi suami istri
kenapa pikiran kalian menjadi kacau begini? Ya sudah ..sepertinya kalian masih
butuh istirahat” ucap wanita itu lalu
beranjak meninggalkan mereka yang masih mematung.
Keringat
mengalir dari pelipis Jiyong, sama halnya dengan Hae Ra. Entahlah sudah berapa
kali mereka menelan air liur mereka sendiri. Mungkin setelah ini perut mereka
akan kembung (?)
Beberapa
menit kemudian Hae Ra berlari menuju kamar Jiyong dan mengunci pintunya dari
dalam.Jiyong yang terlambat menyusulnya berusaha meminta Hae Ra membuka
pintunya. “Jung Hae Ra ..kumohon buka pintunya”
Hae
Ra tak menjawab, hanya terdenghar isakan tangis yang cukup keras.Jiyong mengetuk
pintunya berulangkali namun nihil.“Aku tau kau sangat terkejut, begitupula
denganku.Bukalah pintunya, agar kita bisa bicara. Hae Ra~ssi”
1
detik ..
2
detik ..
3
detik ..
“jangan
membuatku merusak pintu kamarku sendiri jika kau tetap tidak mau membukanya” ucap Jiyong mulai tersulut emosi. Mereka
butuh bicara, berdua. Itu yang menurut Jiyong harus ia dan Hae Ra lakukan.
Cklekk
..
pintu
terbuka perlahan dan muncul sosok Hae Ra dengan wajah yang basah karena air
mata, “mianhae ..” katanya sambil terisak dan membuka lebih lebar pintunya.
Jiyong dengan cepat masuk lalu menutup kembali pintunya.Hanya berdua, Ibunya
tak boleh ikut campur.
“bagaimana
ini .. bagaimana ..ottokhaeyo??” Hae Ra semakin gusar, kata-katanya diselingi
isakan tangis.Bahunya naik turun tak dapat mengatur nafas dengan benar.Jiyong
pun menjadi kalut.Semua ini membuatnya gila.Namun isakan Hae Ra terdengar
begitu menyayat hatinya (?).Ia tidak tega jika melihat wanita menangis seperti
itu, walaupun notabenenya Hae Ra adalah sesuatu hal yang harus disingkirkan
dalam kariernya.
Jiyong
mendekati gadis itu dan menepuk pelan bahunya. Berusaha membuatnya tenang,
walau ia sendiri tak kalah kacau. Setidaknya hal ini masih bisa diluruskan (?)
Hae
Ra menyandarkan kepalanya di pundak jiyong. Entah bisikan darimana yang
membuatnya melakukan hal itu, tapi ia tak memungkiri kalau pikiran kelamnya
sejenak bisa sirna.
“kau
.. tetaplah seperti ini jika memang bisa membuatmu tenang” ucap Jiyong, lembut.
Hae Ra yang mendengarnya hanya diam. Beberapa detik kemudian ia bangkit dan
mengusap seluruh wajahnya dengan baju jiyong. Pria itu mendelik, rasa iba pada
gadis itu lenyap tiba-tiba. Tapi ia menarik nafas kuat-kuat, ‘sabar jiyong-ssi
..sabaaarrrr’ desahnya dalam hati.
“baiklah.
Begini saja, aku terima status pernikahan ini. Tapi hanya status !selebihnya
aku tidak mau tau !” kata Hae Ra dengan penekanan disetiap katanya. “oh iya,
kau tidur di kamar lain ! bagaimanapun juga aku tidak mau sekamar denganmu !”
lanjutnya.
“cihh
.. sesempurna apakah dirimu sampai berlagak sok mengatur seperti itu?! Lagipula
siapa juga yang mau menjadi suami wanita kasar semacam kau?!dan … aku tidak mau
tidur dikamar lain !”
“hah?
Kenapa?Kubilang suami-istri itu cuma status !jangan berharap yang tidak-tidak,
Kwon Jiyong !”
“ya
!berani-beraninya kau mengusirku dari kamarku sendiri ! eomma juga tinggal
disini, bagaimana kalau beliau curiga?! Pakai otakmu !” Hae Ra menggaruk
kepalanya dan menyengir kuda. Ia tak berpikir sampai sana.
“oke
oke .. kita tidur satu kamar. Eumm..satu ranjang maksudku” ralatnya melihat
hanya ada satu ranjang dan bahkan tak ada sofa disana. Ia menghela nafas,
kemudian beranjak untuk mengatur posisi ranjang (?) .diletakannya sebuah
pembatas berupa guling ditengah ranjang. Jiyong mendecak sembari menggelengkan
kepalanya, merasa heran.
“apa
salahnya jika aku melakukan hal ‘itu’, lagi pula kita sudah menikah secara sah”
desis Jiyong, namun suara itu dapat didengar dengan baik oleh Hae Ra. “pervert !!” teriak Hae Ra diiringi layangan
bantal kearah Jiyong. Pria itu berhasil meloloskan diri sebelum benda terkutuk
itu mendarat di ke tubuhnya.
***
“mwoya?!
Eomma akan pindah?! Kenapa mendadak sekali?” pekik Jiyong pada eommanya yang
tengah menggandeng koper besar. Hae Ra hanya mengintip dari balikpintu
kamarnya, Ia masih merasa canggung pada dua orang itu. Tapi sejatinya
pikirannya tidak tenang. Jika eomma pindah, itu artinya ia akan tinggal berdua
saja dengan jiyoung.BERDUA.
“ck.
Eomma tidak perlu lagi tinggal disini. Hae Ra juga akan merawatmu. Sudahlah,
eomma titip salam pada Hae Ra, ya. Jaga dia baik-baik” ucap wanita itu to the
point dan bergegas menyeret koper ditangannya memasuki mobil pribadinya.Jiyong
tak bisa berbuat banyak, Eommanya itu memang paling tidak bisa ditentang
keinginannya.
Setelah
melihat mobil hitam itu menjauh, ia berbalik. Tapi sebuah pemandangan konyol
tertangkap oleh matanya. “sedang apa kau?” tanyanya melihat Hae Ra heran. Hae
Ra menjadi salah tingkah dan bingung sendiri.
“a..
aku.. akusedang melihat-lihat pintu ini. Hehe..bagus sekali. Kau mengimpornya?”
sahut Hae Ra yang menurut Jiyong amat-sangat-teramat konyol. ‘lihatlah tampang
babonya itu’ batin Jiyong.
Tanpa
mempedulikan prilaku aneh ‘sang istri’ ia melengos ke dapur dan memilih untuk
menenggak segelas air. Hae ra merutuki kesalah tingkahannya di waktu yang
sangat tidak tepat.
Ia
menyusul Jiyong ke dapur dan mengekorinya. “eommamu akan pindah kemana? Kenapa
tidak tinggal disini saja?” tanya Hae Ra.
“entahlah,
katanya tinggal di Busan lebih nyaman. Memangnya kenapa?Hem?”Jiyong mendekatkan
wajahnya dengan Hae Ra. Menempelkan kedua dahi mereka.Aliran darah Hae Ra
berdesir hebat.
“bukankah
kita bisa leluasa jika hanya berdua?” Jiyong mendorong dahi Hae Ra, membuat
gadis itu mundur perlahan.Dan matanya sibuk mencari objek pengalih perhatian.
Jiyong tak henti-hentinya menggoda Hae Ra, ia menghembuskan nafas tepat di
telinga Hae Ra kemudian berbisik, “babo”
Hatinya
mencelos, jatuh kedalam palung lautan luas antartika yang dingin (?) Jiyong
terkekeh geli melihat perubahan rona pipi Hae Ra, lalu pergi begitu
saja.Rasanya detik itu juga Hae Ra ingin bunuh diri dan digerogoti para semut
beserta rekan cacing (?)
***
“ya
!bukankah eommamu sudah pindah?! Jadi tidak ada alasan lagi kita tidur satu
kamar !pergi sana hushhh” teriak Hae Ra membahana ke setiap sudut kamar
bernuansa putih itu. Jiyong diam, memandang datar tapi matanya sangat ingin
memusnahkan wanita dihadapannya. “sebagai laki-laki yang tampan, aku mengalah”
katanya pasrah. Ia tak mau malam ini ia habiskan dengan berdebat hanya karena
sebuah kamar (?).
Hae
Ra tersenyum bangga.Diambilnya ponsel yang sudah lama menganggur dan memilih
untuk melepas rindu dengan eommanya. Masih sulit memang menerima kenyataan
bahwa ia sudah tidak lajang lagi. Sedikit harapan masih tersimpan didalam
hatinya, ini hanya mimpi, ini hanya mimpi, ini hanya mimpi, semua akan kembali
seperti semula. Aku akan tidur dan
kemudian aku terbangun di kamarku tercinta. Yaa..ini semua hanya mimpi.
***
Cahaya
sinar matahari pagi ini menyusup masuk melalui celah ventilasi udara.Memaksa
Hae Ra untuk membuka matanya perlahan.Sebuah senyuman mengembang di kedua sudut
bibirnya.Ia tak sabar untuk bangun dan memeluk erat eommanya yang paling ia
sayang. “Jung Hae Ra !cepat bangun !”
Suara
itu memusnahkan semua harapannya yang tinggal sebesar biji kacang kedelai. “ya
!kenapa kau malas sekali ?!” lagi-lagi suara Jiyong memekik didepan pintu. Mau
tak mau Hae Ra bangun dengan raut bantal (?)
“aku
sudah bangun” ucap Hae Ra saat ia sudah membukakan pintu. “sudah bangun katamu?
Cihh .. . cepat mandi lalu sarapan”
“kenapa
kau peduli padaku?”
“memangnya
kenapa? Aku tidak mau ada mayat mati kelaparan di rumah ini. Sudahlah”
Hae
Ra hanya mengerucutkan bibirnya mendengar omelan pria itu. “bla bla bla….”
Semua tak dapat ia dengar dengan jelas. Pikirannya masih dibayang-bayangi oleh
malaikat dari surga (?) .Ia menutup pintunya dan menuruti kata-kata Jiyong.
Debat di pagi hari sangatlah tidak elite.
***
“kau
tidak usah ke kantor selama sebulan ini” ucap Jiyong saat Hae Ra duduk diseberang meja makan, menghadapnya
dengan mengenakan blouse coklat muda yang rapi. “eh? Waeyo?”
“presdir
Choi memberi kita cuti satu bulan seusai pernikahan. Cshh ..apa-apaan ini”
dengus Jiyong sembari menyeruput kopi hangatnya. Mata Hae Ra membelalak lebar,
“apa kau bilang?! Cuti?Bagaimana bisa?Lalu ..bagaimana nasib project’ku ?!!”
Jiyong
hanya mengangkat bahu, tidak peduli. “arghh .. tidak bisakah kita membuat surat
cerai?! Ini benar-benar membuatku gila !”Hae Ra mengacak rambutnya
gusar.Pikirannya kembali kalut.
“ya
!kau pikir mengurus perceraian itu mudah?! Ini baru hari kedua pernikahan kita
!kau mau membuat orang tua kita kena serangan jantung hah?!” akal sehat Jiyong
bekerja dengan baik pagi ini. Ia mengerti betapa Hae Ra sangat tertekan.
“Kau
dan aku, hadapi semua bersama.Aku mengerti, sangat mengerti project itu begitu
berharga bagimu.Tapi kau bisa menundanya sampai satu bulan kedepan.Kau juga
harus memikirkan bagaimana perasaan orang tua kita jika mendengar kata
perceraian” tutur Jiyong.Hae Ra mengangguk paham sambil mengusap air matanya
dengan punggung tangannya.
“mianhae”
Jiyong
berjalan mendekati Hae Ra, mendekapnya perlahan dan mengelus belakang
kepalanya. “kau yang bilang untuk jalani saja. Kita lakukan. Seterusnya kita
pikirkan nanti”
“maaf
emosiku menjadi labil seperti ini. Sangat merepotkan, bukan?”Hae Ra terkekeh,
tetap pada dekapan Jiyong. Ini kedua kalinya, ia merasa nyaman dalam pelukan
musuhnya.
Beberapa
menit berlalu, semua nampak tenang.Berbeda 180° dari sebelumnya.Walau kata
‘canggung’ masih membatasi mereka, tapi setidaknya kehangatan mulai terasa di
tengah musim dingin ini.
Sepertinya
‘di tengah musim dingin’ tidak tepat lagi, karena mungkin beberapa hari lagi
musim semi akan tiba. Sangat sayang untuk dilewatkan mengingat suatu kebetulan
bahwa pergantian musim tepat di akhir pekan. Orang awam pasti akan memanfaatkan
hari tersebut untuk berlibur. Entahlah bagaimana dengan Jiyong. Mungkin ia juga
akan berpikir demikian. Mungkin.
“apa
kau jenuh?” Jiyong bertanya ragu, takut terdapat kesalahan pada
kata-katanya.Hae Ra hanya mengangkat bahu sembari menggigit sendok.Kegiatan
makannya berhenti karena 3 kata dari Jiyong.
“lusa,
kita bisa berlibur. Jika kau mau. Aku tidak memaksa”
Hae
Ra yang hobinya tak jauh dari traveling, bersorak dalam hati.Namun tak
diungkapkan begitu saja melalui raut wajahnya. “ide bagus”
***
Membutuhkan
waktu beberapa jam perjalanan dari Seoul menuju Pulau Jeju. Keinginan Jiyong
sebenarnya bukan Jeju, melainkan Nami atau Mokpo. Tapi ia cukup tau bahwa di
pulau Nami tidak mudah menemukan villa kosong, dan di Mokpo cuaca sangat tidak
menentu menjelang pergantian musim.
“whoaaa
.. kau membeli villa ini?” tanya Hae Ra, terkesima dengan design interior villa
yang begitu memukau. Bibirnya tak berhenti menganga memperhatikan detail setiap
sudut ruangan itu.
“tidak,
eomma membantuku menyewanya beberapa hari lalu. Sebenarnya kami mau
berlibur.Tapi ..”
“tapi
apa?”
“ehm..
tidak apa-apa. Istirahatlah”
Jiyong
tak ingin merusak suasana menjadi seperti pagi lalu, ini sudah cukup tenang.
Sebaiknya ia tak usah banyak bicara soal rencana liburan bersama eommanya.
Selain mengingatkan hae Ra tentang status mereka, ia juga akan merasa bersalah.
Hae
Ra memiringkan sedikit kepalanya dan berlalu menuju lantai dua villa itu. Tapi
sesampainya di lantai dua, ia tak menuruti saran Jiyong untuk beristirahat. Ia
lebih memilih untuk membuka pintu teras kamar dan memandangi birunya lautan
didepan matanya. Begitu indah.
“kenapa
malah diam disini? Anginnya sangat kencang” suara Jiyong menghampiri Hae Ra,
namun laki-laki itu juga ikut berdiri disamping Hae Ra. Melipat kedua tengannya
di atas pagar teras itu.
“aku
tidak akan terbang. Kau yang harusnya tidak disini, tubuhmu itu terlalu
kurus.Bisa-bisa kau dibawa kembali ke Seoul” gurau Hae Ra. Jiyong tertawa kecil
dan berusaha membalas ledekannya. “ya !tubuhku ini cukup atletis. Apa kau tidak
bisa melihatnya?”
“atletis?
Cihh ..kau itu pendek, sadarlah. Hahahaha”
Kali
ini Jiyong merasa terhina (?) ia mendekati Hae Ra dengan tatapan yang sulit
diartikan. Hae Ra hanya diam, dalam hatinya berdoa semoga besok ia masih bisa
bernafas dan melihat matahari terbit dari imur (?) -LOL-
Semakin
mendekat, kemudian dengan sigap ia menggelitiki pinggang Hae Ra. Membuat gadis
itu tersentak kaget dan sontak mengeluarkan tawanya.
“kyaa
hentikaaaaann … huahahahaha”
“tidak
akan. Kau harus kuberi pelajaran”
***
Keesokan
paginya, matahari di pulau Jeju nampak cerah.Persis seperti perkiraan cuaca
yang mengatakan akhir pekan ini adalah pergantian musim.Walaupun udara masih
cukup dingin, namun sinar matahari dapat mengimbanginya.
“morning
“ sapa Hae Ra pada Jiyong yang baru saja keluar dari kamarnya. Jiyong
membalasnya dengan senyuman dan duduk di pantry dapur.Memandangi Hae Ra yang
tengah sibuk berkutat dengan piring di tangannya.Gadis itu nampak elegan, dan
juga cantik.Bola matanya tak berhenti memerhatikan setiap inchi gerakan Hae Ra.
“ya
.. kenapa pagi-pagi kau melamun? Oh iya, aku tidak tau apa makanan favoritmu,
jadi aku buat roti panggang saja. Hehe”
Sejenak
Jiyong terhanyut, Hae Ra memikirkan makanan favoritnya?Sungguh diluar dugaan.
Bahkan ia sempat berpikir kalau Hae Ra sama sekali tak mau mengurusi masalah
sarapan dan sejenisnya. Tapi sekarang …
“aku
tidak suka memilih-milih makanan” Jiyong menyuapkan roti panggang itu kedalam
mulutnya. Hae Ra duduk dikursi lain pantry yang berdekatan dengan Jiyong,
menopang dagunya dan mulai bertingkah aegyo. “jinjja? Jadi jika aku
memasakkanmu cacing goreng dengan bumbu kalajengking, kau mau memakannya?Whoa
..aku sangat bangga” lagi-lagi Hae Ra bergurau, membuat Jiyong mendesis dan
menunjukkan death glare’nya. Hae Ra berdehem, mengerti tatapan itu, ia bangkit
dan kembali ke dapur. Takut terjadi hal yang tidak-tidak.Jiyong hanya tertawa
melihatnya.
“aku
mau jalan-jalan, kau ingin ikut?” tanpa aba-aba Hae Ra langsung berlari ke arah
Jiyong, ia tersenyum lebar.
Jiyong
menyewa 2 sepeda gayung, satu untuknya dan satu lagi tentu saja untuk Hae Ra.
Ia mengajak Hae Ra bersepeda mengelilingi taman buatan di
sekitar villa itu namun begitu ramai karena bersebelahan langsung dengan salah
satu lokasi acara pekan raya musim semi. Banyak stand penjual makanan dan
beberapa souvenir khas pulau Jeju. Membuat mata Hae Ra berbinar dan rasanya
ingin membawa pulang semua yang ada disana. Termasuk patung berbentuk minimalis
yang dipegangnya saat ini.
“tidakkah
ini sangat lucu? Haff .. tapi sayang harganya sangat mahal” Hae Ra menunjukkan
patung itu pada Jiyong, tapi karena ragu ia letakkan kembali.
“kenapa
kau sangat menyukai benda seperti itu? Apa kau bisa memakannya? Ckckck”
“dari
segi fungsional, benda ini memang tidak berarti. Tapi lihatlah dari segi
estetisnya, cetakan patung ini sangat halus dan rapi. Kau memang tidak tau soal
seni ya” Jiyong hanya menggeleng mendengar celotehan Hae Ra. Sekilas ia melirik
patung itu, namun tak lama kemudian ia menggenggam tangan Hae Ra dan
menyeretnya pergi. Mendengar Hae Ra bicara panjang lebar membuat perutnya lapar
(?)
Jiyong
memilih salah satu restaurant sea food yang letakknya dekat dengan pantai. Ia
ingat sejak kecil, ibunya sangat sering membawanya ke tempat seperti ini.
Jadilah sampai sekarang ia sangat menyukai suasana pantai.
“aku
mau ke toilet” ucap Hae Ra sedikit tergesa-gesa. Jiyong mengangguk sebagai
respon, dan langsung memanggil salah satu pelayan disana untuk memesan makanan.
Sementara
itu, Hae Ra agak kebingungan mencari letak toilet tersebut. Tapi seseorang
terlebih dahulu memegang pundaknya, membuatnya refleks menoleh dan cukup
terkejut.
“Oppa?”
***
“dasar wanita gila ! dia pergi kemana sih?!
Apa tidak bisa bilang dulu padaku?! Aishh” umpat Jiyong, setelah hampir 2 jam
lebih ia menunggu Hae Ra kembali dari alasan toiletnya itu. Jiyong memutuskan
untuk kembali lagi ke villa, tak peduli pada keadaan Hae Ra yang mungkin
tersesat ataupun tenggelam di pantai.
Di
perjalanannya kembali ke villa, Jiyong melewati lagi stand penjual patung yang
sangat dikagumi Hae Ra pagi tadi. Patung itu cukup unik, pantas saja Hae Ra
sangat menyukainya. Jiyong tertawa kecil, mengingat Hae Ra yang mengoceh
tentang segi estetis atau apalah itu. Gadis itu, hidupnya penuh dengan teori.
“Agassi,
aku beli patung ini”
***
Sementara
itu, ditempat yang berbeda namun pada waktu yang sama. Pantai menjadi lebih
bahkan sangat indah karena pria disampingnya. Hae Ra tak henti-hentinya
memancarkan senyuman manisnya pada Soo Hyun. Entahlah, baginya seperti sudah
bertahun-tahun tak bertemu dengan laki-laki ini.
“kenapa
kalian memilih pulau Jeju untuk bermulan madu? Bukankah Jiyong itu punya banyak
uang? Kenapa dia tidak mengajakmu berkeliling Eropa saja?”
Senyuman
Hae Ra luntur begitu saja hanya dengan beberapa kalimat. ‘jadi, dia tau soal
pernikahan itu? Oppa, aku mencintaimu, bukan dia’
Hae
Ra menangis dalam hatinya. Mengutuk perasaan gembira 2 jam lalu saat bertemu
kembali dengan Soo Hyun. Ia diam, tak menjawab maupun berkomentar. Menarik
nafas dalam-dalam untuk menahan sakit di dadanya.
“waeyo?
Ada sesuatu yang terjadi?” Soo Hyun menatap mata Hae Ra lekat-lekat. Mencoba
mencari sesuatu yang tak ia ketahui di manik hitam itu. “gwaenchana. Oppa,
bolehkah aku mengatakan sesuatu?”
“tentu
..”
Tanpa
pikir panjang, Hae Ra menghamburkan pelukannya pada Soo Hyun. Memeluknya sangat
erat. Memusnahkan jarak diantara mereka, seperti enggan untuk membiarkan jarak
itu hadir dalam dekapannya.
“eh?
Hae Ra? Kau baik-baik saja?”
“oppa
.. bawa aku pergi. Bawa aku pergi jauh bersamamu” Soo Hyun merasa kaos yang ia
kenakan menjadi sedikit basah. Ia tau gadis ini sedang menangis dan dalam
keadaan yang tidak baik-baik saja.
“ada
apa? Ceritakan padaku, hm?”
Hae
Ra menarik nafas panjang, dan dalam suara yang gemetar ia mengatakan semua itu.
Semua yang ia pendam. “nan jeongmal saranghae”
Soo
Hyun tersentak, bahkan sampai melepas dengan kasar pelukan Hae Ra. Ia tak
percaya pada apa yang beberapa detik lalu gadis ini katakan. “kau bicara apa?!
Mana boleh kau mengatakan hal seperti itu? Statusmu sudah menjadi seorang
istri, Jung Hae Ra !” dengan lancang Soo Hyun membentak Hae Ra diiringi suara
tingginya.
Hae
Ra hanya menangis, sembari menutup mulutnya dan terisak. Ia merasakan dadanya
sesak, sangat sesak hingga sulit menghirup oksigen disekitarnya. Soo Hyun
menarik tangan Hae Ra kasar, menanyakan dimana alamat villa tempat mereka
menginap dan ingin mengantarkannya pulang sebelum hari mulai malam. Hae Ra
berusaha melawan, namun lagi-lagi Soo Hyun membentaknya. Laki-laki itu tak mau
Jiyong tau soal ini.
Apa
daya, Soo Hyun benar-benar mengantarkan Hae Ra kembali ke villa hingga saat ini
mereka tepat berada di pintu masuk yang cukup besar itu. Hae Ra menggenggam
kuat lengan Soo Hyun, ia menatap wajah tirus laki-laki itu dan menggelengkan
kepalanya. Mengisyaratkan bahwa ia benar-benar tak bergurau soal kata-kata yang
ia ungkapkan saat di pantai tadi.
Soo
Hyun berusaha melepaskan genggaman itu, ia mendorong Hae Ra untuk masuk
kedalam. Dengan sedikit paksaan akhirnya gadis itu menurut, berat hati ia
melepaskan Soo Hyun pergi. Tanpa menoleh lagi, Soo Hyun memantapkan langkahnya
menjauh.
Ini tidak benar, Soo Hyun merasa semua ini
sudah terlambat. Kenapa Hae Ra baru mengatakannya sekarang? Disaat semua sudah
tidak ada gunanya lagi. Disaat semua sudah berubah dan tak seperti dulu lagi.
Hae Ra sudah memiliki suami, perasaan Hae Ra padanya sudah tak ada artinya.
Begitu juga sebaliknya, Soo Hyun mencintai Hae Ra lebih dari sekedar sahabat
dan sekarang semuanya hanya bisa dirasakan. Tak bisa dimiliki. Haruskah ia
bersikap egois? Haruskah ia merebut kembali cinta itu? Hae Ra mengatakan kalau
ia mencintainya, jadi apa salah kalau ia mengutamakan sikap individualisnya
untuk memiliki Hae Ra?
***
“ada
apa denganmu? Kau darimana saja?” Jiyong mengintrogasi Hae Ra sesampainya ia
dirumah. Wajah Hae Ra nampak pucat pasi. Peluh membanjiri seluruh tubuhnya.
Hae
Ra hanya menggeleng lemah, ia ingin
bicara sesuatu tapi rasanya berat sekali. Belum sepatah kata ia ucapkan,
kepalanya mendadak pening dan penglihatannya menjadi buram. Refleks Jiyong
menangkap tubuh Hae Ra yang terhuyung ke lantai. Sedikit panik namun masih bisa
ia kontrol.
Jiyong
buru-buru menggendong Hae Ra ke kamar dan membaringkannya di ranjang.
Dilihatnya wajah gadis itu, ada sesuatu yang menggajal dalam rautnya. Tak lama
jiyong bergelut dengan pandangannya, ia menelpon dokter untuk memeriksa keadaan
Hae Ra.
***
Gadis
itu diam, pandangannya kosong. Tak satupun pertanyaan Jiyong yang ia beri
jawaban. Entah apa isi kepalanya itu, Soo Hyun? Dia sendiri bingung, otaknya
benar-benar kosong dan tak mau memikirkan apapun.
‘Ia
seperti mengalami sedikit tekanan batin, kau bisa menghiburnya atau mengajaknya
jalan-jalan’ hanya itu kalimat dokter yang diingat Jiyong dan ia pusing
setengah mati memaknainya. Apa itu artinya ia harus mengakhiri pernikahannya
yang belum genap satu minggu? Bahkan ia juga sebenarnya tak tau asal usul
hubungannya dengan Hae Ra yang sampai ke jenjang pernikahan. Sedikit demi
sedikit Jiyong sudah mulai mampu menerima situasi yang tidak masuk akal itu,
entah itu karena ia pasrah, atau ada sesuatu yang menggetarkan hatinya.
Sampai
detik inipun, ia bingung harus mengambil tindakan apa. Bercerai? Mungkinkah?
Apa itu solusi terbaik? Namun perceraian tidak sama halnya dengan membalikkan
telapak tangan. Lalu bagaimana?
Jiyong
membawakan nampan berisi makanan dan meletakkannya di meja dekat Hae Ra
berbaring. Saat ini, Hae Ra memang sedang tidak tidur, tapi jiwanya sedang
mengkhayal terbang jauh.
“kau
mau berbagi cerita denganku?” Jiyong bertanya lembut. Tak seperti biasanya.
Tapi ini ia lakukan demi gadis itu. Jiyong takut jika gadis itu semakin
tertekan jika ia berbicara ataupun bertindak kasar.
Hae
Ra hanya menoleh, 2 detik. Lalu kembali pada aktivitas melamunnya. Nampak
seperti orang depresi bagi Jiyong. “kau tidak lapar? Apa makanan kesukaanmu?
Biar aku belikan”
Hening.
Sunyi. Senyap (?)
Sebenarnya
Jiyong amat kesal, tapi ia bisa apa? Jika emosinya meledak, semua makhluk hidup
disekitarnya akan terkirim ke alam baka. Dengan ragu dan mungkin agak sedikit
gila baginya, ia mengulurkan tangannya. menggenggam telapak tangan Hae Ra,
halus. Kali ini ia tak akan menarik tangan itu untuk mencegah atau mengajaknya
pergi dengan kasar. Tangan Jiyong detik ini benar – benar terasa lembut. Hae Ra
dapat merasakannya, ia menatap Jiyong lama.
“kau
kenapa? Tidak bisakah kau menceritakannya padaku? Baiklah, aku tau kalau aku
sebenarnya bukan siapa – siapamu, tapi .. ya setidaknya kita bisa berbagi
beberapa hal”
Kedua
sudut bibir Hae Ra membentuk sebuah senyuman, ia membalas genggaman Jiyong di
tangan kanannya. “aku tidak apa – apa”
“kau
yakin?”
Hae
Ra mengangguk sembari tertawa. Ia berpikir kalau Jiyong kemarin sempat bermimpi
aneh, karena itu sifatnya berubah menjadi seperti ini. Tapi Jiyong mengerti
dengan maksud dan makna dari tawa itu,
matanya berkilat (?). sontak Hae
Ra menghentikan tawanya.
“Jiyong~ah”
panggil Hae Ra, Jiyong berdehem menunggu kalimat yang dikeluarkan Hae Ra
selanjutnya.
“aku
lapar, bisakah kau membelikanku kimbap?” Hae Ra menunjukkan aegyonya, sangat
berbeda dengan keadaan 10 menit yang lalu saat suasana masih canggung dan
sunyi. “kau ini sangat merepotkan. Karena aku malaikat, jadi aku belikan”
“yayaya
tuan malaikat pendek, selamat membeli, nikmati perjalananmu” Jiyong mendengus,
harus ekstra sabar dalam menghadapi istrinya.
Setelah
Jiyong benar-benar menghilang dari balik pintu, Hae Ra kembali merenung.
Sepertinya ia memang harus benar-benar melupakan impiannya memiliki Soo Hyun.
Mengingat kejadian saat itu, saat dimana ia ditolak secara tegas tanpa
intrupsi. Sakit, sangat sakit. Sampai-sampai ia tak mampu memikirkan hal lain
selain penolakan itu.
Dan
sekarang, apa yang harus ia lakukan? Sejujurnya, ia sudah tak menganggap Jiyong
sebagai musuh sekaligus saingannya lagi. Laki-laki itu sangat baik, walaupun
terkadang tingkahnya dan tingkat percaya dirinya membuatmu ingin menelan besi
secara utuh. Entahlah, sejak pertama di dekap oleh Jiyong, ia merasa nyaman,
ada kehangatan disana. Tapi ia tak bisa mengartikannya secara detail dan
terperinci. Begitu rumit hal-hal yang dirasakannya.
Mungkin
memang seharusnya begitu, ‘cobalah untuk terbiasa dengan Jiyong’
***
“bagaimana?
Enak tidak?” Tanya Jiyong, setelah Hae Ra selesai mengunyah kimbap dimulutnya.
“mashita ! kau mau?” seru Hae Ra sambil mengarahkan sumpit berisi kimbap ke
mulut Jiyong. Dengan senang hati Jiyong membuka mulutnya lebar, membiarkan Hae
Ra menyuapinya. Sungguh sulit dibayangkan jika mereka awalnya adalah sepasang
musuh.
Hae
Ra memasukkan lebih banyak kimbap ke mulutnya sendiri, hingga penuh dan tak
usah ditebak lagi setelah ini ia akan tersedak. Jiyong memberinya segelas air
dan diteguknya sampai tetes terakhir. Saking buru-burunya, bibirnya menjadi
kotor dengan sisa – sisa nori.
“kau
wanita atau jelmaan setan sih? Kenapa makan saja sampai belepotan seperti itu?
Ckckck” Jiyong mengambil tissue di meja lampu sebelah ranjangnya dan
membersihkan bibir Hae Ra. Tapi tangannya berhenti, memerhatikan bibir gadis
itu. Diluar kehendak, benar-benar diluar kehendak. Jiyong mendekatkan wajahnya
pada Hae Ra, kali ini ia tak berniat menggoda ataupun mengerjai Hae Ra. Semakin
dekat hingga kini bibirnya bertemu dengan bibir Hae Ra.
Hae
Ra mematung, tak membalas maupun menolak. Ia melihat mata Jiyong yang terpejam,
sangat menghayati dan membuatnya ikut memejamkan mata.
***
“morning
.. “ sapa Jiyong, seperti biasa setelah keluar kamar ia akan duduk di pantry
dapur dan memandangi Hae Ra. Gadis itu tak menjawab, ia mengalihkan
perhatiannya dan tak ingin bertatap muka dengan Jiyong.
“morniiiiiinnnnggggg…”
sapa Jiyong untuk yang kedua kalinya. Namun sama saja, tak ada jawaban. Hae Ra
seakan pura-pura tak mendengarnya. Sandiwaranya hari ini adalah sebagai orang
tuli.
Jiyong
bangkit dari duduknya dan berdiri di belakang Hae Ra “morniinnggg” teriaknya
tepat ditelinga Hae Ra. Membuat gadis itu terjungkal menjauh sambil mengatur
nafasnya yang menderu kencang.
“kenapa
kau pura-pura tuli?” Jiyong mengekori setiap langkah Hae Ra. Padahal Hae Ra
sebenarnya hanya mondar-mandir tidak jelas. Mencari bahan yang bisa
menyibukkannya.
“siapa
yang tuli? Kau saja yang berbicara seperti orang yang radang tenggorokan”
“jelas-jelas
aku menyapa sampai 3 kali masa kau tetap tidak menjawabnya?! Apa jangan-jangan
……” Jiyong mulai menyukai kebiasaannya menggoda Hae Ra.
“jangan-jangan
apa?”
“jangan-jangan
kau malu pada apa yang kita lakukan kemarin malam? Hayo kau mengaku saja !
hahahaha”
Semburat
pipi Hae Ra seperti tomat, BINGO ! ia
benar-benar malu ! sangat malu ! kemarin adalah ciuman pertamanya ! first kiss
!
Hae
Ra tak menjawabnya, berusaha menyembunyikan wajahnya dari Jiyong. Namun dengan
sigap Jiyong memeluk Hae Ra dari belakang. Membuat gadis itu lagi-lagi
mematung, menghentikan semua kegiatannya. “a .. apa yang kau lakukan?”
Jiyong
tetap pada posisinya, memeluk Hae Ra semakin erat, “2 menit saja, biarkan
seperti ini” Hae Ra hanya bisa pasrah, Jiyong benar-benar memeluknya.
Hingga
benar-benar 2 menit berlalu, Jiyong melepaskan pelukannya dan merengkuh wajah Hae
Ra. Menatap matanya dalam. Mereka saling berpandangan, entah apa yang ada
dipikiran mereka masing – masing.
“Hae
Ra~ssi, aku…” Jiyong menggantungkan kalimatnya. Jantung Hae Ra berdebar
menantikan kalimat yang akan dikatakan Jiyong. Ia tak tau mengapa, tapi
perasaannya menjadi gelisah.
“aku
.. mencintaimu. Aku minta maaf, sungguh aku minta maaf. Kau tak harus
membalasnya, aku hanya ingin mengatakan itu padamu”
Hae
Ra tertegun, bibirnya kaku seakan tak kuasa mengatakan barang satu katapun. Ia
melepas rengkuhan tangan Jiyong di wajahnya, tanpa memberi jawaban. Ia bingung,
Hae Ra tak tau perasaan apa yang dirasakannya pada Jiyong. Begitu sulit untuk
memastikannya.
Hae
Ra pergi tanpa meninggalkan satu kata sebagai jawaban untuk Jiyong, ia pergi ke
luar villa. Otaknya berputar, kata-kata Jiyong berkelebat di dalam kepalanya.
Tak mungkin ia dengan mudah memberi tau perasaannya pada Jiyong sedangkan ia
sendiri tak memahaminya.
Jiyong
sudah menebak reaksi yang akan Hae Ra lakukan, laki-laki yang dicintai Hae Ra
bukanlah dirinya. Ia menyadari bahwa ia semata-mata hanya seorang saingan dalam
karier gadis itu, tak lebih. Tapi hatinya begitu sakit, kenapa Hae Ra pergi
begitu saja tanpa memberi jawaban? Paling tidak Jiyong bisa mengetahui
bagaimana perasaan Hae Ra terhadapnya.
***
Desiran
angin laut menerpa kulitnya. Hingga petang ini ia belum berniat kembali ke
villa. Ia takut jika ia kembali dan bertemu dengan Jiyong, ia tak tau harus
berkata apa. Sampai ia lebih memilih untuk duduk di pesisir pantai dan
memandangi ombak dihadapannya.
“Hae
Ra?” sapa seseorang dibelakangnya, Hae Ra menoleh, dan tebak siapa yang datang.
Laki-laki yang dua hari lalu dinyatakan cinta olehnya. Kim Soo Hyun.
“oppa?
Ehm .. sedang apa kau disini?” Hae Ra masih merasa tidak enak, mengharuskannya
bersikap agak canggung.
“harusnya
aku yang bertanya, kenapa kau disini?”
Hae
Ra hanya diam, tak penting jika ia menceritakan soal dirinya dan Jiyong. Apa
peduli Soo Hyun? Sudah diduga Soo Hyun pasti akan menceramahi Hae Ra lagi dan
memaksanya kembali ke villa.
“Hae
Ra~ya, apa kau benar-benar mencintaiku?” pertanyaan Soo Hyun sukses membuat
tubuh Hae Ra menegang. ‘apa yang selanjutnya akan laki-laki ini katakan?
Penolakan lebih jelas? Lebih tegas?’
“aku
tau ini salah, tapi … aku juga mencintaimu, Jung Hae Ra. Sudah lama sejak kita
masih SMA. Aku memang pengecut, apa aku terlambat? Apa masih ada kesempatan
untukku memilikimu?”
Hae
Ra menggeleng, air matanya jatuh membasahi pipinya, ia merasa bahagia sekarang
“tidak, ini belum terlambat” Hae Ra memeluk Soo Hyun. Semuanya begitu indah
sekarang, tapi itu bagi Hae Ra dan Soo Hyun. Berbanding terbalik dengan apa
yang Jiyong rasakan saat ini. Semua terlihat jelas dengan indera
penglihatannya. Istrinya berpelukan dengan laki-laki lain.
Cukup,
itu sudah cukup membuatnya kesakitan. Cintanya bertepuk sebelah tangan.
Lucunya, Jiyong sudah menganggap Hae Ra benar-benar sebagai istrinya. Bukan
sandiwara seperti perjanjian mereka dahulu.
***
Satu
minggu berlalu …
Semenjak
hari itu, Hae Ra menghilang. Entah kemana, tak ada kabar sedikitpun yang
terhembus di telinga Jiyong. Laki-laki itu tak perlu berpikir keras untuk
mengetahui keadaan Hae Ra. Ia cukup tau bahwa Hae ra sedang menjalani hidup
baru yang bahagia bersama Kim Soo Hyun.
Jiyong
masih bertahan di villa itu, entah kenapa rasanya enggan untuk meninggalkan
villanya. Tak dipungkiri, dalam hati kecilnya ia sangat merindukan Hae Ra.
Senyumnya, tawanya, ocehannya. Semua itu terkadang hadir dalam mimpi Jiyong.
Kenapa dari jutaan wanita di dunia ini, hanya gadis itu yang dapat merebut
hatinya?
Ting tong …
Bel
pintu berbunyi, firasat Jiyong menjadi aneh. Beberapa langkah lagi untuk
membuka pintu itu, namun seseorang dari luar telah membukanya terlebih dahulu,
dan gadis itu muncul lagi dihadapan Jiyong.
Mereka
saling memandang satu sama lain, sebenarnya kerinduan yang sama besarnya
tertanam di dalam hati mereka masing – masing. Sangat ingin menghamburkan
pelukan satu sama lain, tapi yang ada mereka hanya mematung. Tak ada sepatah
katapun keluar dari mulut mereka. Mata mereka bertelepati, beradu argument
dengan tatapan yang sulit diartikan.
Jiyong
memberanikan diri melangkah mendekatinya, matanya tak lepas menatap mata Hae
Ra. Mencoba mencari jawaban tentang maksud dan tujuan Hae Ra kembali ke tempat
ini. Namun ia tak menemukannya disana. Hanya ada tatapan penyesalan dan sakit
yang mendalam.
Semakin
Jiyong mendekat, rasa rindu Hae Ra semakin kuat. Gadis itu berlari dan
menghamburkan pelukannya pada tubuh Jiyong. Tak peduli apa respon yang akan
diberikan Jiyong, mengusirnya kah, membunuhnya kah, ataupun langsung
mengirimnya ke neraka. Yang jelas ia sangat merindukan suaminya ini, begitu
banyak kata yang terpendam dalam lubuk hati Hae Ra. Sangat ingin ia ungkapkan
pada Jiyong.
“kenapa
kau kembali?” suara Jiyong terdengar datar, dingin, menusuk. Itulah yang Hae Ra
rasakan.
“jeongmal
mianhae, Kwon Jiyong. Jwiseonghamnida, jeongmal” Hae Ra terisak di dada Jiyong.
Tanpa menanggapinya, Jiyong melepas pelukan Hae Ra. Ia tak butuh omong kosong,
ia tau Hae Ra kembali hanya untuk meminta maaf dan minta bercerai. Jiyong tentu
akan menyetujuinya, tak ada gunanya mempertahankan cinta sepihak.
“berikan
surat itu dan aku akan menandatanganinya segera. Setelah itu kau boleh bebas.
Semoga hidupmu lebih bahagia dengan laki-laki yang kau cintai itu”
Hae
Ra tersentak, apa yang baru saja Jiyong katakan? ‘Surat? Surat apa?! Bukan itu
tujuanku untuk datang kembali padamu’ hatinya menjerit. Bukan, bukan itu yang
diinginkan Hae Ra. Bukan perpisahan.
“kumohon,
jangan membuatku terlihat seperti orang idiot” Jiyong membelakangi Hae Ra, tak
kuasa menahan air matanya.
“andwae
! bukan itu tujuanku datang kesini. Aku memang salah, aku tak memahami
perasaanku padamu. Aku sangat bodoh, akulah yang pantas kau sebut idiot. Aku
mencintaimu, Kwon Jiyong. Nan jeongmal saranghamnida”
Jiyong
terdiam, apa ia tak salah dengar? Apa gadis itu bergurau?
“aku
tau sangat sulit bagimu menerimaku kembali, aku hanya ingin mengatakan itu. Aku
dan Soo Hyun sudah tidak memiliki hubungan apa – apa lagi. Kau sangat
membenciku bukan? Baiklah, aku tak akan pernah muncul dihadapanmu lagi” Hae Ra
berbalik, memegang gagang pintu dengan gemetar. Ia harus pergi, semua ini
salahnya.
Sangat
terlambat mengatakan semua itu. Tapi hanya itu yang bisa ia lakukan. Soo Hyun,
perasaannya pada pria itu tak lebih dari rasa sayang seorang adik pada
kakaknya. Suara dingin Jiyong, berpisah dengan Jiyong, itu beribu kali lipat
lebih menyakitkan. Tapi kali ini, ia tak mau merasa sakit lagi. Asumsinya untuk
enyah dari hadapan Jiyong, mungkin itu memang yang terbaik.
“hajima
!”
Hae
Ra berada di ambang pintu, jantungnya berdebar. Akankah Jiyong mengatakan itu?
Tidak mungkin. Ia merasakan sepasang tangan melingkar di perutnya. Ia mengenal
tangan ini, aroma ini. Aroma tubuh laki-laki yang sangat enggan ia tinggalkan.
“jangan
pergi. Aku mohon, jangan tinggalkan aku” Jiyong menitihkan air matanya di bahu
Hae Ra. Kejadian yang amat langka. Hae Ra berbalik dan balas memeluk Jiyong. Ia
ikut menangis, menangis bahagia.
Kebahagiaan
yang sesungguhnya, ia dapatkan bersama Jiyong. Tak peduli masa lalu mereka yang
berbeda 360®. Hae Ra seperti mendapatkan kehidupannya yang lebih sempurna.
Walaupun pada jalan yang sangat sangat sulit dimengerti.
***
Sinar
mentari pagi hari, menyapa melalui jendela kantor di gedung lantai 5 ruang
meeting salah satu perusahaan drama
musical show. Di ruangan itu terdapat dua manusia yang masih tertidur
pulas dengan posisi yang cukup menarik untuk dilihat. Jiyong dan Hae Ra
tertidur dalam posisi duduk dan membenamkan kepala mereka diatas meja meeting.
Posisi mereka saling berhadapan, hingga seorang office boy membangunkan mereka.
“tuan
Kwon, nona Jung, ayo bangun. Ini sudah pagi, kalian bisa pulang ke rumah”
Perlahan
mereka membuka mata, namun keadaan disekitar mereka membuat mereka sama-sama
terkejut. Tak mengerti.
“kenapa
kita bisa disini? Bukankah kemarin aku dan Hae Ra tidur dirumah kami?” Jiyong
menjadi linglung, sama halnya dengan Hae Ra. Ekspresi mereka sama.
“’dirumah
kami’? maksud tuan? Dari kemarin kan kalian memang ketiduran disini karena
tidak bisa pulang. Listrik di kantor mati” jelas office boy itu. Hae Ra dan Jiyong
semakin tak mengerti.
“tertidur?
Tapi .. kami…” mereka saling bertukar pandangan. Pertanyaan yang sama muncul di
benak mereka.
“tapi
apa nona? Haduh sepertinya kalian berdua perlu istirahat. Yasudah saya mau
bersih-bersih dulu” katanya lalu pergi dari ruangan itu.
Suasana
menjadi hening, sesekali tatapan mereka bertemu dan diselingi tawa kecil.
“jadi, kau juga memimpikan hal itu?” Jiyong terkekeh dan menggaruk kepalanya
yang tidak gatal. Hae Ra ikut sedikit salah tingkah, mimpi itu benar-benar
seperti kenyataan. Bahkan mereka berdua memimpikan hal yang sama pada waktu
yang sama pula.
“kurang
lebih seperti itu.. ehm” Hae Ra menyengir dan akhirnya ia ikut tertawa.
Mereka
bergurau dan saling meledek apa saja yang mereka lakukan di mimpi itu. Apa arti
dari mimpi yang hadir dalam tidur mereka? sebuah amanat? Sebuah … takdir?
Mereka tak terlalu memikirkan hal itu, yang pasti berkat mimpi itu hubungan
mereka membaik. Jiyong merasakan semua perasaannya pada Hae Ra di mimpi itu
adalah kenyataan, bukan hanya sekedar bunga tidur, begitu pula dengan Hae Ra.
Setidaknya
hanya Tuhan yang bisa mengubah scenario jalan hidup kita tanpa campur tangan
manusia. Mereka membiarkan kehendak Tuhan yang mengatur semua. Ibarat Tuhan
adalah dalang yang memainkan wayangnya dan takdir merupakan scenario yang
dirancang Tuhan.
-THE
END –
INI
FANFICT MACAM APA HAHHHHH?!!!!!!
YAOLOHHHHHHHHH …. HANCUR PANJANG BERANTAKAN !!! HUWWAAAAAAAAAAA…..
#kabur naik elang# lope lope di udara.. m0ahh :*
Ini bakalan lebih seru kalo ada sequelnya...
BalasHapusAhahah, maaf ya thor, lagi cari-cari ff eh ketemu blog ini. Ahaha ceritanua kocak. Tali kurang bandel kalo tanpa sequel... Yosh, ff nya good deh. Kalo aku sih yes, heheh